Â
Flu babi (swine influenza) adalah influensa yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai subtipe genus Influenzavirus A.
Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia. Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian.
Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2, dan H2N3. Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gejala influensa ini mirip dengan influensa pada umumnya. Gejalanya seperti demam, batuk, sakit pada kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, dan lemah lesu. Beberapa penderita juga buang air besar dan muntah-muntah.
Penamaan jenis penyakit ini dianggap salah oleh berbagai kalangan, karena telah membuat salah tafsir masyarakat bahwa babi dapat menularkan penyakit ini kepada manusia. Untuk itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengganti nama penyakit ini dengan Influensa A (H1N1) mulai 30 April 2009 lalu.
Wabah flu babi 2009 adalah pandemi galur virus influensa baru yang diidentifikasi pada bulan April 2009, yang biasa disebut sebagai flu babi. Galur virus ini diperkirakan sebagai mutasi empat galur virus influensa A subtipe H1N1: dua endemik pada manusia, satu endemik pada burung, dan dua endemik pada babi. Sumber wabah ini pada manusia belum diketahui, namun kasus-kasus pertama ditemukan di Amerika Serikat dan kemudian di Meksiko, yang mengalami peningkatan jumlah kasus, banyak di antaranya fatal.
WHO secara resmi menyatakan wabah ini sebagai pandemi pada 11 Juni 2009, namun menekankan bahwa pernyataan ini adalah karena penyebaran global virus ini, bukan karena tingkat bahayanya. WHO menyatakan pandemi ini berdampak tidak terlalu parah di negara-negara yang relatif maju, namun dianjurkan untuk mengantisipasi masalah yang lebih berat saat virus menyebar ke daerah dengan sumber daya terbatas, perawatan kesehatan yang buruk, dan bermasalah medis. Laju kematian kasus (case fatality rate atau CFR) galur pandemik ini diperkirakan 0,4% (selang 0,3%-1,5%).
Sehubungan dengan semakin merebaknya kasus tersebut maka perlu di sediakan alat untuk membantu dalam melakukan screening suspect kasus influenza tersebut. Rapid tes SD Bioline Influenza Ag merupakan alat diagnosa cepat untuk membedakan apakah seseorang terkena virus influenza tipe A atau B. Jika ternyata positif flu tipe A, maka ada kemungkinan bahwa pasien tersebut terinfeksi virus flu babi (H1N1) ataupun flu burung (H5N1). Sebab seperti dijelaskan di atas bahwa Virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Ada 15Â varian H dan 9 varian N.
Prinsip dan metode kerja rapid test ini adalah dengan menggunakan gold conjugate dan immuno chromatographic assay dimana hasil tes berupa garis tes dapat dilihat dengan mata langsung tanpa menggunakan alat bantu.Rapid test ini memiliki sensitifitas yang tinggi yaitu 91,8% dan spesifisitas 98,9% yang dibandingkan biakan kultur dan RT PCR sebagai standar baku. (Advetorial Indofarma)












































