Selasa, 15 Jan 2013 12:35 WIB

Manisnya Hidup: Menikmati Minuman Penyegar Tanpa Rasa Bersalah

- detikHealth
Jakarta - Pemanis berkalori rendah dan tanpa kalori telah ada selama lebih dari seabad. Akan tetapi, dalam hal menjaga berat badan, orang sering kali lupa bahwa pemanis tersebut, jika digunakan secara konsisten untuk mengelola asupan kalori, dapat berperan membantu mencapai berat badan yang sehat. Selain itu, ada kabar baik, yaitu, keinginan kita akan rasa manis dapat dipuaskan dengan berbagai pemanis berkalori rendah atau tanpa kalori yang digunakan dalam ribuan produk makanan dan minuman yang ada dewasa ini.

Ambillah minuman bersoda sebagai contoh. Minuman ini sangat disukai orang karena menyegarkan untuk memuaskan dahaga, dan banyak di antaranya yang dibuat dengan pemanis berkalori rendah atau tanpa kalori. Pada kenyataannya, minuman merupakan satu-satunya produk (selain permen karet) yang dapat memberikan rasa manis dengan atau tanpa kalori.

Di tahun 2011, seluruh dunia menghabiskan 128 milyar minuman ringan diet takaran 8 ons. Sehingga dari minuman seperti Diet Coke® hingga Coke Zero® and Sprite Zero®, tersedia berbagai pilihan bagi setiap orang yang berusaha menjaga berat badan.

Informasi di Balik Pemanis
Pemanis berkalori rendah dan tanpa kalori sering kali digunakan untuk menggantikan gula, sirup jagung berfruktosa tinggi (high fructose corn syrup) dan pemanis-pemanis berkalori lainnya. Karena pemanis-pemanis tersebut ratusan kali lebih manis daripada gula, maka hanya sedikit sekali yang dibutuhkan untuk mendapatkan rasa manis yang luar biasa tanpa kalori ekstra.

Pemanis-pemanis ini membuat penyeimbangan kalori (keseimbangan energi) dan pengelolaan berat badan menjadi lebih menyenangkan sehingga anda dapat tetap menikmati makanan dan minuman yang manis asalkan sewajarnya dan dengan tetap aktif secara jasmani.

Hasil studi yang dilakukan terhadap 9.000 orang dewasa menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi makanan dan minuman bebas gula yang berkalori rendah atau tanpa kalori biasanya mengonsumsi vitamin dan mineral yang lebih banyak dan asupan kalori yang lebih sedikit secara keseluruhan. Di samping itu, hasil survei terhadap konsumen oleh Dewan Pengendalian Kalori (Calorie Control Council) menunjukkan bahwa alasan utama orang menggunakan pemanis berkalori rendah dan tanpa kalori adalah agar tetap lebih sehat secara menyeluruh.

Petunjuk Agar Diet Anda Berhasil: anda tidak perlu sama sekali berhenti mengonsumsi yang manis
  • Pilih versi berkalori kurang, berkalori rendah dan tanpa kalori dari makanan dan minuman kesukaan anda
  • Gunakan pemanis berkalori rendah atau tanpa kalori sebagai pengganti gula ketika menyiapkan makanan dan minuman
  • Perlu diingat bahwa untuk menjaga berat badan, adalah penting untuk menyeimbangkan kalori yang masuk (asupan kalori) dan kalori yang keluar (pembakaran kalori) melalui pola makan yang berimbang dan tidak berlebihan dan dengan melakukan aktivitas fisik  secara teratur.
Untuk mendapatkan keterangan tentang bagaimana hidup sehat dan aktif atau keterangan lebih lanjut tentang pemanis berkalori rendah dan tanpa kalori, kunjungi situs internet The Coca-Cola Company Beverage Institute For Health & Wellness di www.beverageinstituteindonesia.org

Tahukah anda?
  • Lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia memilih makanan dan minuman yang dibuat dengan pemanis berkalori rendah atau tanpa kalori, seperti aspartam atau sukralosa, karena menyukai rasa manis tetapi tidak menginginkan tambahan kalori
  • Pemanis yang dibuat dari stevia mempunyai kalori nol dan berasal dari alam. Pemanis ini merupakan pemanis terbaru yang secara luas digunakan untuk mengurangi gula dan kalori dalam produk-produk di seluruh dunia.
Pemanis berkalori rendah dan pemanis tanpa kalori telah ada sejak lama. Pemanis berkalori rendah pertama kali ditemukan pada tahun 1879. Sigman-Grant MJ, Hsieh G. Penggunaan makanan dan minuman dengan kandungan gula yang dikurangi dilaporkan mencerminkan diet berkualitas tinggi (Reported use of reduced-sugar foods and beverages reflect high quality diets). Jurnal Ilmu Pangan (J of Food Science), 2005; 70: S42-46.


(adv/adv)