“Pemanis buatan, pewarna dan pengawet, merupakan BTP yang paling sering disorot dan menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat luas. Kesalahpahaman tersebut sesungguhnya tidak perlu terjadi jika konsumen mengerti hakekat BTP dan produsen pangan mematuhi rambu-rambu tatacara pemakaian BTP pada produk pangan,” kata dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan – IPB, Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS.
Jenis BTP yang paling umum digunakan pada minuman ringan adalah zat pemanis, flavor (perasa), pewarna, pengawet, dan pengatur keasaman. Dengan adanya pemanis buatan pada minuman ringan, maka kandungan energi yang dihasilkan oleh minuman tersebut menjadi sangat kecil bahkan ada yang hampa kalori.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkat pemanis buatan, maka minuman ringan tanpa kalori tetap terasa manis dan enak dinikmati. Minuman ringan tanpa kalori diperlukan kehadirannya oleh masyarakat yang membatasi masukan energi karena alasan diet, penyakit diabates melitus, obesitas, dan lain-lain.
Menurut Prof. Dr. Ir. Made Astawan, suatu makanan/minuman dikatakan berenergi tinggi jika per sajinya mengandung energi minimum 300 kkal, dikatakan berenergi rendah jika per sajinya mengandung kurang atau sama dengan 40 kkal, dan dikatakan tanpa energi jika per sajinya mengandung kurang dari 5 kkal.
Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa minuman ringan (termasuk minuman bersoda) tidak termasuk minuman berenergi tinggi, karena kandungan energinya kurang dari 300 kkal per saji. Beberapa jenis minuman bahkan ada yang tergolong rendah energi (Diet Cola berkafein) atau tanpa energi (Diet Cola tanpa kafein).
Berikut ini adalah kandungan energi beberapa jenis minuman ringan per 240 ml ukuran saji:
- Cola, berkafein = 88 kkal
- Cola, tanpa kafein = 104 kkal
- Mid-calorie Cola = 45 kkal
- Diet Cola, berkafein = 8 kkal
- Diet Cola, tanpa kafein = 0 kkal
- Grape soda= 104 kkal
- Lemon-Lime soda= 104 kkal
- Ginger Ale= 80 kkal
- Cream Soda, tanpa kafein = 128 kkal
(adv/adv)











































