Julukan silent killer sepertinya memang tepat diberikan bagi diabetes. Penyakit ini membunuh secara diam-diam dan perlahan karena kebanyakan penderitanya tidak dapat melakukan deteksi secara dini. Banyak penderita datang ke dokter setelah sudah parah. Mengapa demikian? Prof. dr. Sidartawan Soegondo, Penasehat Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) menjawabnya di peringatan Hari Diabetes Sedunia yang diselenggarakan Diabetasol di Plaza Barat Senayan, Minggu (9/11).
“Telat mendeteksi itu wajar karena diabetes ini nyaris tidak ada keluhan di awal. Orang diabetes itu doyan makan sehingga tidak merasa ada yang salah dengan dirinya. Banyak minum dan banyak buang air kecil. Penderitanya beranggapan karena banyak minum pasti banyak buang air kecil jadi wajar. Padahal tiga hal tersebut adalah sign awal diabetes,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa hampir 50% persen penderita diabetes di dunia tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap diabetes. Sedangkan kesadaran mengenai penyakit ini di Indonesia lebih parah lagi. Dari total keseluruhan penderita diabetes di Indonesia hampir 70% tidak sadar bahwa penyakit tersebut sudah menggerogoti tubuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Banyak yang datang ke dokter ketika kondisinya sudah buruk atau parah. Mata kabur, pusing, mual, berat badan turun terus, luka tidak sembuh, serangan jantung, stroke atau sudah komplikasi. Banyak orang meninggal karena komplikasinya ini,” lanjutnya.
Informasi mengenai diabetes dan cara penanganannya sebenarnya sudah begitu gencar diberikan kepada anggota masyarakat. Namun sayang, kepedulian terhadap kondisi kesehatan ini masih begitu minim. Diabetes masih dianggap permasalahan kesehatan yang sepele. Ditambah lagi, program kesehatan nasional yang saat ini diterapkan masih berfokus pada pengobatan. Bukan perubahan gaya hidup untuk mencegah diabetes.
Oleh karena itu, Diabetasol bersama Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) terus menerus menggiatkan kegiatan-kegiatan edukatif seperti peringatan Hari Diabetes Sedunia kali ini. Selain acara puncak yang diselenggarakan di Plaza Barat Senayan, edukasi juga diselenggarakan di 33 kota. Formatnya beragam, mulai dari seminar medis hingga kegiatan sharing pengalaman antar penderita diabetes.
Edukasi mengenai diabetes sudah menjadi agenda tahunan Diabetasol yang telah dipercaya selama 19 tahun sebagai solusi penangangan diabetes karena sesuai dengan visi produsennya yaitu Kalbe untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Peringatan Hari Diabetes Sedunia tahun ini juga diwarnai dengan peluncuran aplikasi Diabetes Solution Center. Aplikasi ini dapat membantu siapa saja yang ingin mengetahui apakah dirinya beresiko diabetes, memperoleh informasi akurat dari dokter ahli mengenai diabetes dan membantu menerapkan gaya hidup sehat bagi penderita diabetes.
“Diabetes itu penyakit seumur hidup penderitanya harus mengatur dirinya seumur hidup. Kadang mereka bosan. Saya rasa adanya aplikasi Diabetes Solution Center dan acara-acara seperti ini sangat baik. Mereka merasa ada partner untuk menerapkan gaya hidup sehat,” tutup Prof.dr. Sidartawan.
(adv/adv)











































