Data KPA mencatat terjadi 2.386 kasus pelanggaran atau rata-rata 200 kasus per bulan. Angka ini meningkat 98% dibanding tahun sebelumnya. Hasil pantauan menunjukkan bahwa 82,9% penyebab stres pada anak disebabkan minimnya komunikasi dengan orangtua ditambah padatnya aktifitas anakk sehingga mengurangi hak anak untuk bermain dan berekreasi.
"Orangtua adalah garda terdepan yang seharusnya melindungi anak-anaknya. Stres pada anak sebagian besar berasal dari stres orang tuanya. Kami menemui kasus bayi mencoba bunuh diri hanya gara-gara dimarahi ibunya karena tidak cepat mandi," kata Arist Merdeka Sirait, ketua KPA dalam diskusi bersama media di Plaza Bapindo, Jakarta (20/3/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak orang tua beralasan capek jika melihat anaknya bandel. Ini adalah akibat minimnya pendidiman untuk menyiapkan pasangan menjadi orang tua sebelum menikah," kata Arist.
Lebih lanjut lagi, Arist memaparkan gejala-gejala fisik yang bisa dilihat apabila anak-anak mengalami stres, yaitu: nilai akademis turun, sering mimpi buruk, sering gemretak giginya ketika tidur dan nafsu makannya menurun drastis.











































