"Anak-anak yang mengalami kekerasan ekstrim pada usia muda memiliki usia biologis yang jauh lebih tua daripada anak-anak lainnya," kata peneliti Idan Shalev, peneliti di departemen psikologi dan neuroscience di Duke Institute for Genome Science and Policy, Durham, N.C.
Sekarang ini kekerasan pada anak-anak terjadi secara luas di AS. CDC menyatakan bahwa hal ini adalah penyebab kematian utama kedua pada penduduk berusia 10-24 tahun dan sekitar 20 persen siswa kelas 9-12 telah mengalami bullying selama tahun 2009.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti menganalisis sampel DNA dari anak kembar pada usia 5 dan 10 tahun serta membandingkan panjang telomere-nya dengan tiga macam kekerasan: kekerasan rumah tangga antara ibu dan pasangannya, bullying yang terjadi secara rutin dan penganiayaan fisik oleh orang dewasa. Para ibu juga diwawancarai ketika anak-anaknya tersebut berusia 5, 7 dan 10 untuk mendapatkan rekaman kumulatif paparan kekerasan.
Anak-anak yang terpapar kekerasan kumulatif menunjukkan pemendekan telomere yang dipercepat dari usia 5 ke usia 10 tahun. Lebih jauh lagi, anak-anak yang terpapar berbagai bentuk kekerasan dalam satu waktu memiliki tingkat pemendekan telomere yang paling cepat, lapor studi yang dipublikasikan di Molecular Psychiatry.
"Anak-anak yang mengalami kekerasan tampaknya akan menua lebih cepat," ungkap Shalev seperti dilansir dari WebMD, Rabu (25/4/2012).
Bullying dan kekerasan lainnya yang dialami selama masa kanak-kanak bisa menyebabkan erosi fisik pada DNA, ungkap Paul Thompson, Ph.D., profesor neurologi di David Geffen School of Medicine, University of California, Los Angeles. Baginya ini merupakan "kejutan besar".











































