Anak yang Ambil Makan Sendiri Cenderung Makan Berlebihan

Anak yang Ambil Makan Sendiri Cenderung Makan Berlebihan

- detikHealth
Senin, 11 Jun 2012 09:33 WIB
Anak yang Ambil Makan Sendiri Cenderung Makan Berlebihan
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Seringkali Anda merasa jengkel karena putra-putri tercinta tak mau makan hanya karena makanan yang disajikan bukanlah favoritnya. Bisa juga ketika dia sedang asyik bermain video game lalu Anda 'mengganggunya' dengan mengajak makan malam maka ia pun jadi malas-malasan.

Dulunya kondisi ini disiasati dengan meminta anak-anak untuk menyiapkan makanannya sendiri. Solusi ini bertujuan untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang kebiasaan makan yang sehat seperti mengontrol porsi makannya sendiri.

Lagipula ditemukan sejumlah manfaat dari "gaya makan ala keluarga" ini, termasuk dalam hal pengembangan keterampilan sosial anak seperti melakukan sesuatu secara bergiliran, melatih keterampilan motorik halus misalnya menggunakan garpu atau sendok dan kemandirian belajar, ungkap Samantha Ramsay, seorang asisten profesor Foods and Nutrition di University of Idaho yang tidak terlibat dalam studi. Manfaat lainnya, dengan cara ini anak-anak takkan makan secara berlebihan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sebuah studi baru menemukan bahwa anak-anak yang menyiapkan makanannya sendiri cenderung makan dengan porsi yang lebih banyak daripada jika makanan itu disiapkan orangtuanya.

"Jadi membiarkan anak-anak untuk memilih sendiri porsi makanannya dianggap sesuai dengan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Hal ini tentu berlawanan dengan porsi makanan yang biasanya disajikan orangtua karena porsi ini cenderung lebih besar dari jumlah asupan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak," timpal Jennifer Savage Williams, direktur Center for Childhood Obesity Research di Penn State University dan peneliti utama studi ini.

Savage Williams dan rekan-rekannya pun ingin memastikan dari kedua metode itu, mana yang paling bermanfaat bagi anak-anak. Tim peneliti bereksperimen dengan 63 anak-anak berusia 3-5 tahun yang diberi makaroni dan keju, baik yang sudah disiapkan dengan porsi tersendiri atau ditaruh dalam semangkuk besar yang bisa diambil sendiri oleh anak-anak.

Peneliti sengaja memilih jam makan siang untuk melakukan studi ini. Awalnya, anak-anak diberi 400 gram makaroni dan keju dalam satu porsi yang sudah disiapkan. Namun dalam kesempatan makan siang berikutnya, peneliti mengizinkan anak-anak untuk mengambil sendiri makanannya dari semangkuk makaroni berukuran 400 gram.

Dalam kedua percobaan, anak-anak memakan makaroni dan keju dengan jumlah yang sama yaitu sekitar 200 gram.

"Bertentangan dengan ekspektasinya, total energi yang dikonsumsi pada waktu makan tidaklah berbeda, entah bagi anak-anak yang melayani dirinya sendiri atau yang makan dengan porsi yang ditentukan," tulis para peneliti dalam laporan yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition tersebut.

Hasilnya, membiarkan anak-anak melayani dirinya sendiri bukanlah cara yang efektif untuk memastikan anak-anak ini tidak makan berlebihan.

Savage Williams justru mengatakan bahwa gaya makan ala keluarga ini mungkin masih bermanfaat bagi perkembangan anak-anak. "Mempersiapkan makanannya sendiri mungkin baik bagi anak-anak, tetapi penting bagi mereka untuk memiliki pedoman tertentu tentang bagaimana memilih ukuran porsi yang sesuai dengan usia dan kebutuhannya," katanya seperti dilansir dari chicagotribune, Senin (11/6/2012).

Dalam studi yang sama, tim peneliti juga menawarkan makaroni dan keju dari berbagai ukuran, mulai dari 100-400 gram. Dari situ peneliti menemukan bahwa anak-anak yang makan lebih banyak ketika ditawari porsi makanan yang besar juga cenderung mengambil porsi makaroni yang lebih besar untuk dirinya sendiri ketika diijinkan untuk melayani dirinya sendiri.

Ramsay mengatakan hal ini cenderung menunjukkan bahwa anak-anak ini belum pernah belajar bagaimana memahami "isyarat kenyang". Sebagai gantinya, anak-anak ini bisa saja menghabiskan sebesar apapun porsi makanan yang disiapkan di hadapannya.

"Jika orang dewasa memberi anak-anaknya porsi makan yang lebih besar, penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak akan terus melayani dirinya sendiri juga dengan porsi yang lebih besar," tandas Ramsay.

Oleh karena itu, Savage Williams menyarankan agar para orangtua dan guru membantu anak-anak mengetahui kapan waktunya berhenti makan ketika sudah kenyang, bukannya menghabiskan semua makanan yang ada di depannya sehingga berpotensi makan secara berlebihan.

"Jika Anda akan membiarkan anak-anak untuk memilih sendiri porsi makanannya, penting bagi Anda untuk memberikan panduan cara melakukannya yang sesuai dengan standar kesehatan," katanya.


(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads