Tontonan yang Tak Baik untuk Perkembangan Anak

Tontonan yang Tak Baik untuk Perkembangan Anak

- detikHealth
Kamis, 05 Jul 2012 16:07 WIB
Tontonan yang Tak Baik untuk Perkembangan Anak
(Foto: thinkstock)
Jakarta -

1. Kartun yang mengandung unsur kekerasan atau seks terselubung

(Foto: thinkstock)
Orangtua biasanya akan merasa aman ketika anaknya menonton acara kartun karena menganggap kartun memang acara untuk anak-anak. Namun tidak semua acara kartun baik untuk anak, karena beberapa justru mengandung unsur kekerasan atau seks terselubung.

Tak hanya itu, sebuah penelitian yang pernah dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics mengungkap, karakter para tokoh yang ada di film kartun semacam SpongeBob dianggap kurang realistis untuk anak usia 4 tahun. Akibatnya, anak-anak jadi susah konsentrasi.

2. Sinetron

(Foto: thinkstock)
Televisi dituding memiliki andil dalam membentuk perilaku buruk anak. Berbagai tayangan seperti sinetron dan reality show saat ini tidak memberikan pemahaman yang baik kepada anak dan lebih banyak berefek negatif.

"Komisi Nasional Perlindungan Anak pernah memantau 13 stasiun TV swasta di Indonesia. Hasilnya, 62% di antaranya menayangkan perilaku kekerasan yang dapat membuat anak-anak menirunya. Berbagai adegan kekerasan ini dijumpai di sinetron dan tayangan-tayangan film lainnya," jelas Arist Merdeka Sirait, ketua KNPA.

3. Acara olahraga kasar seperti tinju dan smackdown

(Foto: thinkstock)
Dunia anak penuh dengan sensasi. Di masa ini anak sangat senang memamerkan kekuatannya di depan orangtua, teman dan orang lain yang mereka temui. Meski tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak perempuan, hal ini lebih sering terjadi pada anak lelaki yang cenderung berlaku kasar seperti smackdown. Televisi ditengarai sebagai pemicu perilaku 'keras' ini, seperti acara tinju dan smackdown.

4. Acara yang mengandung unsur pelecehan

(Foto: thinkstock)
Acara televisi yang mempertontonkan tindakan tak senonoh, pelecehan terhadap orang lain atau kebanci-bancian dapat membuat anak meniru perilaku tersebut. Sebaiknya jangan biarkan anak menonton acara-acara seperti itu.

5. Film hantu

(Foto: thinkstock)
Anak sebenarnya tidak punya rasa takut terhadap hantu tetapi tertular oleh orang-orang sekitarnya. Biasanya anak kecil akan takut hantu bila melihat orangtua atau orang-orang di sekitarnya ketakutan dan teriak-teriak saat menonton film atau iklan yang menunjukkan sosok hantu.

"Sebenarnya anak kecil itu nggak kenal hantu. Kalau anak kecil menganggap hantu itu menyeramkan ya karena lingkungannya," jelas Muhammad Rizal, Psi dari Lembaga Terapan Psikologi, dalam artikel detikHealth.
Halaman 2 dari 6
Orangtua biasanya akan merasa aman ketika anaknya menonton acara kartun karena menganggap kartun memang acara untuk anak-anak. Namun tidak semua acara kartun baik untuk anak, karena beberapa justru mengandung unsur kekerasan atau seks terselubung.

Tak hanya itu, sebuah penelitian yang pernah dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics mengungkap, karakter para tokoh yang ada di film kartun semacam SpongeBob dianggap kurang realistis untuk anak usia 4 tahun. Akibatnya, anak-anak jadi susah konsentrasi.

Televisi dituding memiliki andil dalam membentuk perilaku buruk anak. Berbagai tayangan seperti sinetron dan reality show saat ini tidak memberikan pemahaman yang baik kepada anak dan lebih banyak berefek negatif.

"Komisi Nasional Perlindungan Anak pernah memantau 13 stasiun TV swasta di Indonesia. Hasilnya, 62% di antaranya menayangkan perilaku kekerasan yang dapat membuat anak-anak menirunya. Berbagai adegan kekerasan ini dijumpai di sinetron dan tayangan-tayangan film lainnya," jelas Arist Merdeka Sirait, ketua KNPA.

Dunia anak penuh dengan sensasi. Di masa ini anak sangat senang memamerkan kekuatannya di depan orangtua, teman dan orang lain yang mereka temui. Meski tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak perempuan, hal ini lebih sering terjadi pada anak lelaki yang cenderung berlaku kasar seperti smackdown. Televisi ditengarai sebagai pemicu perilaku 'keras' ini, seperti acara tinju dan smackdown.

Acara televisi yang mempertontonkan tindakan tak senonoh, pelecehan terhadap orang lain atau kebanci-bancian dapat membuat anak meniru perilaku tersebut. Sebaiknya jangan biarkan anak menonton acara-acara seperti itu.

Anak sebenarnya tidak punya rasa takut terhadap hantu tetapi tertular oleh orang-orang sekitarnya. Biasanya anak kecil akan takut hantu bila melihat orangtua atau orang-orang di sekitarnya ketakutan dan teriak-teriak saat menonton film atau iklan yang menunjukkan sosok hantu.

"Sebenarnya anak kecil itu nggak kenal hantu. Kalau anak kecil menganggap hantu itu menyeramkan ya karena lingkungannya," jelas Muhammad Rizal, Psi dari Lembaga Terapan Psikologi, dalam artikel detikHealth.

(mer/ir)

Berita Terkait