Jumat, 06 Jul 2012 12:57 WIB

Remaja Agresif Bisa Disebabkan Karena Alami Gangguan Mental

- detikHealth
(Foto: thinkstock)
Jakarta - Emosi yang meluap-luap dan agresif adalah ciri khas remaja saat berada dalam masa pubertas. Gejala ini bisa dimaklumi sebagai perubahan hormon remaja yang sedang berada dalam masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Tapi hati-hati, beberapa gejala agresifitas pada remaja ini ada yang tak disebabkan oleh perubahan hormon semata, melainkan karena gangguan mental.

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa ekspresi kemarahan remaja tidak hanya disebabkan oleh pubertas saja, tapi disebabkan oleh masalah yang lebih serius. Hampir dua pertiga remaja dilaporkan memiliki kemarahan yang tidak terkendali sampai melibatkan kekerasan, menghancurkan properti atau terlibat dalam kekerasan terhadap orang lain.

Penelitian juga menemukan bahwa hampir 8% remaja memenuhi kriteria gangguan eksplosif intermiten atau intermittent explosive disorder (IED). Gangguan ini ditandai dengan emosi yang tak bisa dikendalikan, kemarahan yang tidak beralasan, hingga penggunaan narkoba.

Temuan para peneliti di Harvard Medical School ini berasal dari survei nasional terhadap hampir 6.500 orang remaja di Amerika Serikat berusia 13 - 17 tahun dan orangtuanya. Para peneliti menemukan bahwa remaja mulai menunjukkan tanda-tanda IED sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sampai remaja. IED pada remaja juga berkaitan dengan masalah di kemudian hari, seperti penyalahgunaan obat dan depresi.

Penelitian ini menemukan bahwa banyak remaja tidak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan untuk menangani gangguan IED-nya. Di antara peserta penelitian, 38% remaja IED telah mendapat terapi untuk masalah emosionalnya, tetapi hanya 17% saja yang menerima pengobatan khusus untuk IED-nya.

"Jika IED dapat dideteksi dan diobati sejak dini, dokter dapat membantu mencegah banyak kasus kekerasan di masa depan dan bahaya mental yang terkait," kata peneliti, Ronald Kessler, profesor kebijakan perawatan kesehatan di Harvard Medical School seperti dilansir Time Healthland, Jumat (6/7/2012).

Untuk memenuhi definisi IED, menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) IV, seseorang harus memiliki 3 episode agresifitas impulsif yang sangat tidak sebanding dengan pemicu stres selama hidupnya. Dalam penelitian ini, para peneliti juga menggunakan definisi sempit bahwa seseorang dapat dikatakan mengidap IED jika memiliki kemarahan dalam waktu 12 bulan sebelumnya.

Hasilnya menemukan bahwa banyak remaja memenuhi kriteria ini. Penelitian ini tidak memasukkan remaja dengan gangguan mental atau emosional lainnya seperti gangguan bipolar, ADHD, oppositional defiant disorder dan conduct disorder.

"Ada banyak orang yang tidak mendapatkan pengobatan karena tidak benar-benar mempengaruhi kehidupannya. Masalahnya adalah banyak sekali orang yang memilikinya, lebih banyak daripada yang saya kira. Itu sangat kronis dan mengganggu," kata Kessler.

Kessler menemukan bahwa IED tidak hanya kurang terdiagnosis, tetapi juga jarang diteliti. Menurutnya, jumlah laporan penelitian mengenai serangan panik adalah sekitar 60 kali lipat lebih banyak dibanding penelitian tentang gangguan kemarahan. Padahal prevalensi IED jauh lebih tinggi dibandingkan gangguan panik.

Penyebabnya mungkin bahwa orang yang marah atau agresif tidak dapat mengenali perilakunya sendiri, berbeda dengan kepanikan. Orang yang memiliki gangguan amarah seringkali tidak menganggapnya sebagai masalah. Penderita gangguan ini tidak berusaha mencari bantuan.


(pah/ir)