Bahkan bagi sejumlah remaja, isu ini begitu mengganggu hingga banyak remaja putri ingin melakukan operasi pengurangan ukuran payudara.
Dr. Brian Labow, ketua tim peneliti dari studi ini sendiri mengaku telah melakukan 100 operasi pengurangan ukuran payudara selama setahun pada remaja perempuan dan menurutnya topik ini belum banyak digali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Macromastia atau payudara besar dianggap sebagai kondisi umum bagi para dokter bedah plastik. Namun menurut American Society of Plastic Surgeons, ada lebih dari 63.000 operasi pengurangan ukuran payudara yang dilakukan di AS selama tahun 2011 saja.
Labow mengatakan bahwa para remaja perempuan yang melakukan operasi pengurangan ukuran payudara biasanya melakukan hal tersebut karena pernah mengalami kondisi seperti nyeri punggung atau leher, minder, seringkali mendapatkan perhatian yang berlebihan dan tidak diinginkan serta kesulitan mencari pakaian yang pas.
Terkait dengan hal ini didapatkan fakta lain bahwa sekitar dua pertiga remaja dengan macromastia cenderung mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Namun Labow mengatakan bahwa pengurangan berat badan secara efektif biasanya tak serta-merta menyelesaikan masalah ukuran payudara tersebut.
Labow mengatakan bahwa datanya mendukung fakta tentang banyaknya para gadis dengan macromastia yang berupaya untuk mendapatkan operasi pengurangan ukuran payudara.
"Mereka mengaku menderita dengan kondisi seperti itu. Padahal jika Anda mau menunggu hingga tiga tahun setelah masa menstruasi, payudara mungkin akan tumbuh lebih sedikit namun mereka tidak cukup sabar untuk menunggu lebih lama," terangnya seperti dilansir dari HealthDay, Selasa (17/7/2012).
Lagipula operasi itu juga ada efek sampingnya, termasuk ketidakmampuan untuk menyusui dan ada perubahan jangka pendek dalam hal sensitivitas puting, ujar Labow.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.











































