Data dari American Association of Poison Control Centers menunjukkan bahwa kunjungan gawat darurat untuk kasus keracunan pada anak meningkat 30 persen antara tahun 2001-2008. Kebanyakan terjadi karena salah minum obat atau karena mengalami overdosis.
Jenis obat-obatan yang sering tertelan dengan tidak sengaja, termasuk karena dikira permen antara lain obat tidur, pededa nyeri golongan opioid, obat jantung, obat diabetes, obat flu, aspirin dan asetaminofen. Obat-obat tersebut umumnya termasuk obat keras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Opioid merupakan sedatif (penenang) yang sangat kuat yang jika ditelan dalam jumlah banyak bisa menyebabkan tidur sampai koma," kata Dr Michael Lanigan, seorang dokter di SUNY Downstate, New York seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (1/11/2011).
Penelitian yang dilakukan di Cincinnati Children's Hospital Medical Center menunjukkan, salah satu penyebabnya adalah anak-anak susah membedakan obat dengan permen. Butiran-butiran obat sering dikira permen karena bentuknya mungil dan warna-warni.
Penelitian yang menggunakan campuran 20 jenis obat dan permen itu juga menunjukkan, 1 dari 4 anak TK mengalami kesulitan dalam memisahkan antara obat dan permen. Bahkan tidak cuma muridnya, gurunya juga tidak mudah melakukannya. Sekitar 1 dari 5 guru TK yang diteliti masih salah mengelompokkan.
"Saya pikir pabrik obat bisa mendesain produknya agar tidak terlalu mirip dengan permen karena kami meyakini hal itu bisa mengurangi risiko keracunan obat pada anak kecil," kata Casey Gittelman, seorang pelajar yang berinisiatif melakukan penelitian tersebut untuk dipresentasikan di sekolahnya.
(up/)











































