Anak Anda Pemarah? Cobalah Terapi Video Game

Anak Anda Pemarah? Cobalah Terapi Video Game

Linda Mayasari - detikHealth
Rabu, 07 Nov 2012 09:33 WIB
Anak Anda Pemarah? Cobalah Terapi Video Game
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Anak-anak yang kurang diperhatikan oleh keluarga dan merasa kesepian, biasanya akan menjadi pemarah. Anak yang temperamental mungkin memerlukan terapi khusus agar tumbuh menjadi pribadi dengan psikologi yang sehat.

Para peneliti di Boston Children's Hospital menciptakan terobosan baru di dunia kesehatan, di mana peneliti menggunakan video game sebagai alat terapi manajemen kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah melatih anak mengendalikan emosi, sehingga mengurangi kebutuhan pengobatan.

Peneliti mengembangkan jenis permainan yang dinamakan dengan Regulate and Gain Emotional Control (RAGE), permainan menembak pesawat. Permainan ini tersambung dengan alat kontrol denyut jantung yang dipasang pada jari pasien.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tingkat denyut jantung yang terukur tersebut dapat mempengaruhi kelangsungan permainan. Sehingga ketika emosi pasien meningkat saat memainkan game tersebut, permainan akan terhenti secara otomatis.

Oleh karena itu, pasien perlu mengontrol kemarahannya dan harus lebih sabar agar dapat melanjutkan permainan. Penelitian tersebut melibatkan sekelompok anak antara usia 9 sampai 17 tahun yang terpaksa harus dirawat di rumah sakit unit kejiwaan karena kesulitan mengontrol emosi.

Studi tersebut juga membandingkan kelompok pasien yang menerima pengobatan kemarahan standar rumah sakit dengan kelompok pasien yang menjalani terapi RAGE. Kelompok pasien terapi RAGE diketahui mampu menjaga denyut jantung dengan lebih baik dan frekuensi kemarahannya semakin berkurang dari waktu ke waktu.

Meskipun temuan tersebut positif, penelitian ini masih perlu dipelajari lebih lanjut dengan melibatkan obyek penelitian yang lebih besar, karena jumlah peserta yang terlibat dalam penelitian tersebut hanya sekitar 37 orang yang terbagi menjadi 2 kelompok.

Penelitian tersebut diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal Adolescent Psychiatry, seperti dikutip dari naturalnews, Rabu (7/11/2012).

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads