Penelitian di Swedia baru-baru ini menemukan bahwa penolakan yang dialami semasa remaja dapat meningkatkan peluang seseorang menjadi perokok berat di masa dewasa. Para peneliti dari Universitas Stockholm mengamati data dari 15.000 orang lebih sejak lahir sampai usia paruh baya.
Tak hanya itu, peneliti juga mewawancarai 2.329 orang berusia 13 tahun tentang kondisi pertemanannya di sekolah lalu mewawancarainya lagi saat berusia 32 tahun tentang kebiasaan merokoknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan yang diterbitkan dalam jurnal Addiction, peneliti mencatat bahwa penelitian ini menggunakan ukuran yang obyektif atas status temannya. Artinya, para siswa tidak diminta menilai statusnya sendiri, melainkan dinilai oleh 3 teman sekelasnya yang paling sering berinteraksi di sekolah.
Siswa yang sedikit disebut namanya oleh siswa lain dianggap sedikit memiliki teman dan kurang dapat diterima dalam kelompok. Anak-anak inilah yang cenderung tumbuh menjadi perokok. Para peneliti mengatakan ada beberapa alasan mengapa anak-anak yang ditolak oleh kelompoknya ini tumbuh menjadi perokok.
Seperti dikutip Medical Daily, Kamis (22/11/2012) alasannya adalah karena siswa yang ditolak mungkin mempercayai statusnya yang lebih rendah dibanding teman-temannya. Hal itu lantas mempengaruhi pandangannya terhadap masa depan dan mempengaruhi pilihan hidupnya.
Bisa juga karena anak dengan status yang lebih rendah cenderung melakukan perilaku kontroversial seperti merokok, sementara anak yang lebih diterima melakukan perilaku sesuai dengan yang diharapkan orang-orang di sekitarnya.
Oleh karena itu, para peneliti menegaskan bahwa program anti merokok di sekolah akan lebih efektif jika diperkaya peningkatan penerimaan antar siswa dan mengkampanyekan sikap negatif terhadap merokok.
(pah/)











































