Anak-anak Rupanya Lebih Tangguh Hadapi Trauma Dibanding Orang Dewasa

Anak-anak Rupanya Lebih Tangguh Hadapi Trauma Dibanding Orang Dewasa

- detikHealth
Jumat, 21 Des 2012 14:30 WIB
Anak-anak Rupanya Lebih Tangguh Hadapi Trauma Dibanding Orang Dewasa
(Foto: ThinkStock)
Jakarta - Ketika anak dihadapkan dengan kekerasan, bencana alam, atau peristiwa traumatik lainnya, tentu akan meninggalkan trauma mendalam dalam dirinya. Tetapi menurut para ahli, anak-anak ternyata lebih tangguh menghadapi trauma dibanding orang dewasa jika mendapat dukungan yang tepat.

Orang-orang di segala usia membutuhkan waktu yang lama untuk pulih dari trauma atau kembali merasa aman setelah selamat dari kekerasan. Korban kekerasan dapat mengembangkan kegelisahan, depresi, dan pasca-traumatic stress disorder (PTSD).

Tetapi menurut para ahli, kesedihan dan ketakutan akan lebih cepat memudar jika korbannya adalah anak-anak dan mungkin tidak akan menyebabkan masalah emosional jangka panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak-anak memang cenderung sangat tangguh," kata Dr. Matthew Biel, kepala psikolog anak dan remaja di MedStar Georgetown University Hospital, seperti dilansir foxnews, Jumat (21/12/2012).

Salah satu cara yang dilakukan anak-anak untuk menghilangkan rasa traumanya adalah dengan bermain. Anak-anak mungkin akan terhibur oleh berbagai permainan yang menarik baginya dan berangsur-angsur melupakan hal buruk yang pernah disaksikannya.

"Cara inilah yang digunakan anak-anak untuk menguasai situasi traumatik yang pernah dialami atau dilihatnya. Akan tetapi, anak mungkin juga memerlukan bantuan profesional untuk membebaskan diri dari rasa takut dan dapat bermain dengan tenang untuk tujuan menghapus trauma," jelas Biel.

Sebagai contoh, tragedi penembakan di Connecticut pekan lalu tentunya cukup meninggalkan trauma mendalam bagi para siswa karena harus melihat mayat gurunya. Anak-anak tersebut membutuhkan lebih banyak dukungan agar mampu menjalani kehidupan normalnya kembali setelah tragedi memilukan tersebut.

Sebuah studi ilmiah dilakukan untuk mempelajari tentang PTSD pada anak-anak yang terlibat dalam tindak kekerasan dan untuk mengetahui apakah anak-anak membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama dari orang yang lebih tua. Hal ini karena orang yang lebih tua lebih banyak mengalami kesulitan untuk mengalihkan perhatian ke hal-hal yang menyenangkan dibanding anak-anak.

Secara keseluruhan, para ilmuwan menunjukkan bahwa sebagian besar anak-anak dapat segera pulih dari trauma akibat bencana alam atau perang, sementara hanya sebagian kecil saja yang mengembangkan gangguan jangka panjang seperti PTSD.

Hal yang menimbulkan risiko masalah psikologis jangka panjang adalah ketika anak melihat seseorang tewas di hadapannya. Tepat setelah peristiwa traumatik, wajar jika anak mengalami mimpi buruk, kesulitan tidur, keinginan untuk tetap dekat dengan orangtua, gugup atau moody.

Orangtua harus mampu membantu anak mengatasi masa-masa sulitnya tersebut. Beberapa anak mungkin akan mengajukan banyak pertanyaan untuk mencari kepastian akan apa yang dilihatnya, sebagian anak mungkin akan diam dan menuangkan ketakutannya pada tulisan atau gambar.

Ketika masalah perilaku atau tanda-tanda trauma tersebut masih berlangsung selama beberapa minggu, orangtua perlu memeriksakan kondisi psikologis anaknya ke dokter anak atau psikiater. Selain dukungan dari orangtua, para peneliti juga menyarankan agar anak segera kembali ke rutinitasnya bersama teman-teman untuk mengatasi trauma.

"Orangtua harus menghindari menonton berita kriminal di TV ketika sedang bersama anak-anak, karena hal itu akan mengingatkan kembali kepada peristiwa traumatik yang pernah dijalaninya," tambah Biel. Kerusakan psikologis akan semakin sulit diatasi jika anak menyaksikan hal-hal yang berbau kekerasan berulang-ulang.





(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads