Dalam studi ini, peneliti Panagiota Kaisari dan rekan-rekannya dari Harokopio University di Athena mengkombinasikan temuan 11 studi yang melibatkan 19.000 anak berusia 2-19 tahun. Kesemuanya membandingkan kondisi anak yang makan lebih dari tiga kali sehari dengan anak yang makan kurang dari tiga kali sehari. Tapi ada beberapa studi yang menganggap cemilan sebagai 'makanan' sedangkan ada juga yang membedakan keduanya.
Hasilnya, anak-anak, terutama anak laki-laki yang biasanya makan lebih dari tiga kali sehari mempunyai berat badan lebih kecil daripada anak yang makan tiga kali atau kurang dari itu dalam sehari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, Kaisari mengaku tak tahu-menahu mengapa kaitan antara makan lebih dari tiga kali sehari dengan berat badan berbeda bagi anak laki-laki dan perempuan. Mungkin juga ada alasan lain yang mampu menjelaskan mengapa anak laki-laki yang makan lebih sering justru lebih kurus.
Bisa jadi hal itu ada kaitannya dengan faktor lain yang dipertimbangkan sejumlah studi yaitu kebiasaan berolahraga si anak. Sayangnya faktor yang diperhatikan satu studi dengan yang lain itu berbeda-beda sehingga hal ini makin mempersulit tim Kaisari untuk menemukan penyebab di balik hal itu.
Namun menurut Alison Field, profesor pediatrik dari Harvard Medical School dan Boston Children's Hospital, studi ini tak menemukan adanya hubungan sebab-akibat antara frekuensi makan dengan berat badan. Pasalnya ke-11 studi tersebut dilakukan dalam satu waktu. Jadi mustahil untuk mengetahui apakah kebiasaan makan si anak sebelum berat badannya bertambah, padahal beberapa anak mungkin sudah mulai mengurangi frekuensi makannya setelah mengalami kelebihan berat badan.
Bagi Field, yang dibutuhkan adalah studi yang mengamati anak dari waktu ke waktu untuk mengetahui seperti apa kondisi si anak sebelum frekuensi makannya ditambah. Kalaupun hal itu dilakukan, peneliti manapun pasti kesulitan untuk menguraikan apakah yang penting itu benar-benar frekuensi makan atau mungkin faktor lainnya.
"Orang yang sering makan atau frekuensi makannya tinggi bisa jadi memilih makanan yang lebih beragam ketimbang orang yang jarang makan. Jadi sebenarnya yang penting itu frekuensi makan atau apa yang Anda makan?" tanya Field.
Sebenarnya masuk akal jika dikatakan frekuensi makan mempengaruhi metabolisme dan pengendalian berat badan. Ada juga beberap studi yang menyatakan bahwa melewatkan sarapan ada kaitannya dengan penambahan berat badan, meski alasannya tak jelas.
"Yang jelas kuncinya adalah apa yang dimakan oleh anak dan berapa jumlah total kalori yang ia dapatkan. Jika Anda sering makan tapi yang dimakan adalah fast food maka tentu saja hal itu tak baik untuk berat badan," pungkas Field seperti dilansir WebMD, Jumat (12/4/2013).
(up/up)










































