Sering Makan Bikin Anak Tak Gampang Gemuk, Tapi Bukan Junk Food

Sering Makan Bikin Anak Tak Gampang Gemuk, Tapi Bukan Junk Food

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 12 Apr 2013 08:35 WIB
Sering Makan Bikin Anak Tak Gampang Gemuk, Tapi Bukan Junk Food
(Foto: thinkstock)
Jakarta - Konon agar si anak tak gemuk, porsi makan hariannya harus dikurangi atau anak hanya diperbolehkan makan 2-3 kali sehari. Tapi sebuah studi baru mengatakan bahwa anak yang sering diberi makan justru tak mudah gemuk seperti halnya rekan-rekannya yang makan tiga kali sehari.

Dalam studi ini, peneliti Panagiota Kaisari dan rekan-rekannya dari Harokopio University di Athena mengkombinasikan temuan 11 studi yang melibatkan 19.000 anak berusia 2-19 tahun. Kesemuanya membandingkan kondisi anak yang makan lebih dari tiga kali sehari dengan anak yang makan kurang dari tiga kali sehari. Tapi ada beberapa studi yang menganggap cemilan sebagai 'makanan' sedangkan ada juga yang membedakan keduanya.

Hasilnya, anak-anak, terutama anak laki-laki yang biasanya makan lebih dari tiga kali sehari mempunyai berat badan lebih kecil daripada anak yang makan tiga kali atau kurang dari itu dalam sehari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan anak-anak yang makan lebih dari tiga hari sekali itu 22 persen lebih rendah risikonya untuk mengalami kelebihan berat badan atau obesitas meski efek yang sama tak terlihat pada anak perempuan.

Kendati begitu, Kaisari mengaku tak tahu-menahu mengapa kaitan antara makan lebih dari tiga kali sehari dengan berat badan berbeda bagi anak laki-laki dan perempuan. Mungkin juga ada alasan lain yang mampu menjelaskan mengapa anak laki-laki yang makan lebih sering justru lebih kurus.

Bisa jadi hal itu ada kaitannya dengan faktor lain yang dipertimbangkan sejumlah studi yaitu kebiasaan berolahraga si anak. Sayangnya faktor yang diperhatikan satu studi dengan yang lain itu berbeda-beda sehingga hal ini makin mempersulit tim Kaisari untuk menemukan penyebab di balik hal itu.

Namun menurut Alison Field, profesor pediatrik dari Harvard Medical School dan Boston Children's Hospital, studi ini tak menemukan adanya hubungan sebab-akibat antara frekuensi makan dengan berat badan. Pasalnya ke-11 studi tersebut dilakukan dalam satu waktu. Jadi mustahil untuk mengetahui apakah kebiasaan makan si anak sebelum berat badannya bertambah, padahal beberapa anak mungkin sudah mulai mengurangi frekuensi makannya setelah mengalami kelebihan berat badan.

Bagi Field, yang dibutuhkan adalah studi yang mengamati anak dari waktu ke waktu untuk mengetahui seperti apa kondisi si anak sebelum frekuensi makannya ditambah. Kalaupun hal itu dilakukan, peneliti manapun pasti kesulitan untuk menguraikan apakah yang penting itu benar-benar frekuensi makan atau mungkin faktor lainnya.

"Orang yang sering makan atau frekuensi makannya tinggi bisa jadi memilih makanan yang lebih beragam ketimbang orang yang jarang makan. Jadi sebenarnya yang penting itu frekuensi makan atau apa yang Anda makan?" tanya Field.

Sebenarnya masuk akal jika dikatakan frekuensi makan mempengaruhi metabolisme dan pengendalian berat badan. Ada juga beberap studi yang menyatakan bahwa melewatkan sarapan ada kaitannya dengan penambahan berat badan, meski alasannya tak jelas.

"Yang jelas kuncinya adalah apa yang dimakan oleh anak dan berapa jumlah total kalori yang ia dapatkan. Jika Anda sering makan tapi yang dimakan adalah fast food maka tentu saja hal itu tak baik untuk berat badan," pungkas Field seperti dilansir WebMD, Jumat (12/4/2013).

(up/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads