Fairuz Khairunnisa alias Fay, bocah perempuan yang didiagnosis mengidap autis kabur dari Cibinong dan ditemukan di Penggilingan, Jakarta Timur. Sendirian dan tanpa bekal, Fay cuma butuh waktu 3 jam untuk menempuh jarak sejauh 50 km.
"Fay ada kecenderungan impulsif, kalau ingin sesuatu harus dapat. Dan memang dia kuat lari. Umur 2 tahun lihat tukang es krim, karena suka suaranya maka dikejar itu tukang es krim. Padahal baru belajar berjalan," tutur ayah Fay, Tian M Arief kepada detikHealth seperti ditulis Rabu (30/4/2013).
Secara verbal, Fay tidak pernah menyampaikan keinginannya pergi ke Penggilingan, tempat almarhum kakeknya tinggal. Namun dalam beberapa kesempatan, saat dibonceng motor dan melewati pertigaan bocah ini minta belok kanan, arah ke Penggilingan padahal arah ke rumahnya belok kiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sama sekali tidak terbayangkan, Fay akan senekat itu pergi sendirian ke Penggilingan yang jaraknya lebih dari 50 km. Bagaimana reaksi Tian dan istrinya, Efin Fintiana, saat mendengar Fay menghilang? Simak penuturan Tian berikut ini, yang merupakan bagian ke-2 dari 3 bagian.
(Baca juga bagian 1: Kabur dari Cibinong, Fay si Bocah Autis Ditemukan di Penggilingan)
Bagian 2:
Kabar Hilangnya Fay Sampai ke Telinga Kami
Sekitar pukul 12 siang ada misscall dari Bu Diana ke HP Ibunya Fay, yang Ahad itu sedang berada di rumah, di Sasakpanjang. Tapi begitu ditelepon balik, HP diangkat, namun tak ada jawaban. Lalu aku menelepon Bu Diana memakai HP-ku, diangkat Bu Diana, yang kedengarannya sedang menangis. Aku pun jadi nggak enak hati, ada apa ini?
Sambungan terputus, lalu aku coba telepon lagi Bu Diana. Dijawab. Ia hanya berkata singkat, "Pak, mohon datang ke Cibinong." Tak ada penjelasan lebih lanjut. Telepon pun ditutup. Lalu aku melapor ke Ibunya Fay.
"Yah, pergi aja sendiri ke Cibinong, takut ada apa-apa," pesan istriku.
Tapi aku masih penasaran, ada apa ini? Aku kembali menelepon Bu Diana, yang dijawab dengan nada lemas. Aku terus mendesak, ada apa dengan Fay? Lalu keluarlah jawaban, bahwa Fay hilang dari rumah.
"Deggg! Serasa jantung hampir copot dan serasa langit hampir runtuh! Astaghfirulloh!"
Betapa tidak, Fay sekarang sudah gadis remaja. Penampilan fisiknya tak ubahnya seorang wanita dewasa, namun dengan jalan pikiran anak-anak. Bahkan, untuk menjawab pertanyaan pun belum tentu jelas atau dimengerti si penanya. Kemampuan verbal Fay memang masih minim, masih sebatas mengungkapkan keinginannya sendiri.
Bagaimana kalau kenapa-napa di jalan?
Bagaimana kalau ada orang yang menculiknya?
Naudzubillahi mindzalik!
Tapi aku tetap berusaha menenangkan diri. Adzan dzuhur pun berkumandang. Kami memutuskan untuk menjalankan shalat dzuhur sekalian dijama' (digabung) dengan ashar. Karena kami kira ini akan menjadi "hari yang panjang."
Selepas dzuhur, HP-ku berdering. Ternyata dari Mamangnya Fay di Penggilingan. Dia menanyakan posisi kami di mana. Setelah dijawab kami berada di Sasakpanjang, dia pun kaget.
Katanya, "Fay ada di Penggilingan. Dia datang sendirian ke sini!"
Ya Allah, alhamdulillah. Wasyukurillah. Itulah yang terpikir pertama kali olehku, kendati sejumlah pertanyaan menggelayut di pikiranku; bagaimana dia bisa sampai ke sana?
Tapi pertanyaan itu sementara kami tepis. Yang penting, kami segera ke Penggilingan untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku segera menelepon Bu Diana, mengabarkan kalau Fay sudah ditemukan; di Penggilingan! Motor Tornie pun kukeluarkan, dan kami berboncengan ke Penggilingan. Waktu tempuh ke sana sekitar 2,5 jam.
-bersambung-
Saat kabur, Fay sama sekali tidak membawa bekal baik berupa uang maupun makan minum. Bocah perempuan yang mulai beranjak remaja ini pun sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Bagaimana caranya bisa pergi sejauh itu? Nantikan kisah selanjutnya di bagian ke-3: Fay si Bocah Autis Jago Menghafal Rute, Tapi Masak Lari 50 Km?.
(up/pah)










































