Kabur dari Cibinong, seorang bocah penyandang autis ditemukan di Penggilingan, Jakarta Timur yang jaraknya lebih dari 50 km. Menurut ayahnya, si anak memang sangat jago menghafal rute. Namun bagaimana caranya menempuh rute tersebut?
Seperti diberitakan sebelumnya, Fairuz Khairunnisa alias Fay merupakan penyandang autis yang baru-baru ini kabur dari tempat penitipan. Anehnya, bocah perempuan yang beranjak remaja ini hilang sekitar pukul 09.00 dan telah menempuh jarak 50 km saat ditemukan pada pukul 12.00.
"Yang paling mungkin memang lari karena dia memang kuat, dan dia hafal jalan. Dan kalau sudah maunya, dia bisa sangat fokus," kata Tian M Arief, ayah Fay saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (1/5/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimanapun, sampai sekarang Tian belum bisa menjawab dengan apa anaknya bisa pergi sejauh itu. Ada beberapa kemungkinan seperti dikutip dari blog Tian sebagai berikut.
(Baca juga bagian 1: Kabur dari Cibinong, Fay si Bocah Autis Ditemukan di Penggilingan; dan bagian 2: Sendiri dan Tanpa Bekal, Fay si Bocah Autis Tempuh 50 Km Cuma 3 Jam)
Bagian 3:
Tidak percaya
Dalam perjalanan ke Penggilingan, kami membahas, bagaimana kemungkinan Fay bisa mencapai Penggilingan. Ada beberapa kemungkinan, yang semuanya bermuara di pertanyaan "bagaimana bisa?"
1. Opsi paling mungkin (meski ujung-ujungnya timbul pertanyaan seperti di atas), adalah dengan berjalan dan berlari. Fay mudah sekali menghapal rute. Selama dibonceng di sepeda motor, Fay selalu melihat-lihat rute yang dilaluinya. Sewaktu kecil, dia selalu mengoreksiku, kalau perjalanan kami tak sesuai rute yang biasa. "ke kiri!" atau "ke kanan!", atau "ke situ!" serunya.
Dengan rute Cibinong-Penggilingan yang sudah dia hapal, dia berlari menyusuri jalan raya, hingga tiba di Penggilingan. Tapi timbul pertanyaan:
- Bagaimana bisa menempuh jarak Cibinong-Penggilingan dengan berlari hanya dalam waktu 3 jam?
- Apa dia tidak cape di jalan untuk berhenti atau minum. Padahal, dia tak membawa bekal minuman atau pun uang untuk membeli minuman. Bahkan cara berbelanja/bertransaksi aja dia belum tahu?
- Bagaimana bisa dia melewati banyak perempatan besar (seperti Pasar Cibinong, Pasar Rebo, PGC, Cawang, dan lain-lain), padahal dia tak bisa menyeberang jalan sendirian?
- Menurut Mamangnya, ketika tiba di Penggilingan dengan berlari (kata saksi mata, tukang kios depan rumah), dia sama sekali tak kelihatan berkeringat banyak hingga membasahi bajunya. Keringat dia sedikit saja, di hari yang terik itu. Padahal, rute yang dia baru tempuh, lebih dari rute lari marathon (42 kilometer sekian). Pelari marathon saja bisa mandi keringat.
2. Naik kendaraan umum. Bagaimana bisa dia menyetop bus, memberhentikannya, dan menghapal nomor bus? Padahal dia belum bisa caranya. Belum bisa verbal, atau bicara pada orang lain dengan jelas atau bahasa yang mudah dipahami.
Kalau naik kendaraa umum dari Cibinong hingga Penggilingan, bisa lebih dari 5 kali ganti kendaraan, mulai dari ojek, mikrolet/angkot, sampai bus. Bagaimana bisa?
3. Ada yang mengantar. Pertanyaan besarnya, siapa?
Ketidakpercayaan ini muncul dari Bu Diana dan saudara-saudaranya. Mereka bahkan tidak memercayai yang tiba di Penggilingan itu benar Fay, sebelum mereka membuktikannya sendiri.
Maka, mereka pun dengan mengendarai 2 motor, mendatangi Penggilingan -daerah yang sama sekali baru bagi mereka, dengan menempuh 2,5 jam perjalanan.
Setelah bertemu langsung Fay, barulah mereka percaya itu Fay, tapi -lagi-lagi- pertanyaannya sama seperti kami, bagaimana bisa?
Untuk mengobati rasa penasaran warga kampung lainnya yang tidak turut serta ke Penggilingan, sekaligus sebagai bukti bahwa itu Fay, Fay dan Bu Diana pun difoto dengan kamera HP.
Pengakuan Fay
Kendati susah ditanya, Fay mau juga bicara atau menjawab pertanyaan kami, tentang bagaimana dia bisa tiba di Penggilingan. Jawabnya: "Berjalan, berlari, naik bis, naik mikrolet, sendiri."
Ketika ditanya, dengan siapa Fay ke Penggilingan, dijawabnya: "dengan Fay!" (Maksudnya, dia sendirian).
Terus terang, susah untuk memercayai kebenaran pengakuan tersebut, tapi begitulah katanya. Dia sendiri yang mengatakannya.
Pada akhirnya, kami mengucap syukur pada Sang Maha Pelindung, yang telah melindungi Fay selama perjalanan, hingga tiba di Penggilingan tanpa kurang satu apa pun. Kami meyakini, ada Dia -mungkin dengan mengutus malaikat penjaga, untuk menjaga Fay selama perjalanan. Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar!
Hikmah
Hikmah dari kejadian ini, kami harus lebih memperhatikan Fay, lebih waspada, lebih care, lebih menyayanginya, agar kejadian ini tidak terulang lagi. Kami tak mau berharap keberuntungan untuk kedua kalinya. Mudah-mudahan kejadian ini pertama kali dan satu-satunya. Aamiin.
Kisah sebelumnya tentang Fay kabur dan ditemukan 50 km dari rumahnya bisa dibaca di bagian 1 dan bagian 2, atau di blog ayahnya, http://tianarief.wordpress.com/.
(up/pah)










































