Tapi nyatanya angka perbandingan atau rasio dua komponen kolesterol yang selama ini diabaikan yaitu trigliserida dan HDL 'kolesterol baik' justru menjadi refleksi penting dari pola makan yang buruk serta gaya hidup sedenter yang dikatakan peneliti berada di balik tingginya kecenderungan obesitas pada anak-anak maupun orang dewasa. Hal ini ditemukan tim peneliti dari Cincinnati Children's Hospital Medical Center, AS.
Menurut peneliti, kedua penanda ini memang tak begitu banyak mendapat perhatian karena upaya untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mencegah gangguan kesehatan serius dengan memanipulasi kedua komponen ini tak banyak dilakukan para ilmuwan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu peneliti meminta 900 partisipan anak dan orang dewasa muda berusia antara 10-26 tahun menjalani sejumlah tes untuk mengetahui kadar kolesterol, tekanan darah, gula darah dan penanda risiko gangguan jantung lainnya sembari meminta partisipan untuk berpuasa. Partisipan juga menjalani tiga tes non-invasif lain untuk mengukur elastisitas pembuluh darahnya.
Ternyata sepertiga partisipan diketahui memiliki arteri yang kaku setelah menjalani satu dari tiga tes elastisitas; 13 persen mengalami abnormalitas dalam dua tes; dan 3 persen mengalami kekakuan arteri berdasarkan hasil ketiga tes elastisitas.
Dari situ peneliti menyimpulkan adanya 'peningkatan yang progresif' baik pada faktor risiko penyakit jantung maupun kekakuan arteri ketika diketahui rasio trigliserida dan HDL-nya meningkat.
"Kami menemukan adanya perubahan vaskular pada remaja yang seharusnya sehat. Padahal arteri yang kaku membuat jantung bekerja lebih keras dan hal ini tak baik demi kesehatan Anda, apalagi pada generasi muda," ungkap Dr. Urbina selaku ketua tim peneliti studi ini.
Sayangnya cakupan studi ini tak begitu besar sehingga peneliti belum dapat menentukan standar rasio trigliserida dan HDL yang dianggap 'sehat'. Hanya saja peneliti menemukan dari 378 partisipan yang dilaporkan memiliki rasio tertinggi dari ketiga kelompok diketahui bahwa rasio rata-rata mereka adalah 2,7.
Masalah ini juga biasa disebut dengan pengerasan arteri. Pada orang dewasa, kondisi ini biasanya baru muncul sebagai akibat dari kombinasi penuaan dengan dampak kumulatif dari tekanan darah, kolesterol serta gangguan lain pada dinding pembuluh darah selama beberapa dekade. Pada akhirnya kondisi ini akan menyebabkan peningkatan risiko serangan jantung, stroke dan kematian mendadak.
"Tapi jika hal ini terlihat pada anak-anak, artinya ini adalah tanda adanya 'percepatan penuaan' sehingga cenderung meningkatkan risiko bahaya yang datangnya relatif dini ketika mereka beranjak dewasa," tandas Dr. Urbina seperti dilansir Foxnews, Kamis (2/5/2013).
Namun tim peneliti juga percaya jika kondisi yang terjadi pada arteri generasi muda ini dapat dipulihkan, terutama dengan aktivitas fisik rutin serta pola makan yang sehat. Hal ini termasuk mengurangi konsumsi minuman manis dan makanan tinggi karbohidrat seperti kentang, nasi putih dan pasta.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.
(up/up)










































