Penelitian tersebut dilakukan di Inggris, di mana para psikolog menscan otak anak-anak yang mengalami gangguan perilaku. Ketika diperlihatkan gambar seseorang yang tengah merasa sakit, daerah otak yang berhubungan dengan empati pada anak-anak ini tidak mau aktif.
"Temuan kami menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan perilaku memiliki respon otak yang berbeda saat melihat orang lain sakit. Sangat penting untuk melihat temuan ini sebagai indikator kerentanan awal," kata Essi Viding, profesor psikologi di University College London seperti dilansir Medical Daily, Jumat (3/5/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil pemeriksaan otak tersebut lantas dibandingkan dengan pemeriksaan otak dari 18 anak yang tak memiliki gangguan perilaku, tetapi memiliki kapasitas intelektual, latar belakang sosial ekonomi dan etnis yang sama. Hasilnya menemukan bahwa anak-anak dengan gangguan perilaku lebih 'tak berperasaan'.
"Kita tahu bahwa anak-anak dapat menjadi sangat responsif terhadap intervensi dan tantangannya adalah melakukan intervensi yang lebih baik sehingga kita benar-benar dapat membantu anak-anak, keluarganya dan lingkungan sosial yang lebih luas," kata Viding.
Temuan yang dimuat jurnal Current Biology ini juga mengungkapkan bahwa tidak semua anak-anak dengan gangguan perilaku memiliki kerentanan yang sama. Beberapa di antaranya mungkin memiliki kerentanan neurobiologis untuk menjadi psikopat, sementara yang lainnya tidak.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa remaja dengan gangguan perilaku memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam tindak kriminal, bercerai, mencandu alkohol dan putus sekolah.
(pah/up)











































