Di Inggris, Pelajaran Memilih Bra Diusulkan Masuk Kurikulum SD

Di Inggris, Pelajaran Memilih Bra Diusulkan Masuk Kurikulum SD

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jumat, 17 Mei 2013 11:03 WIB
Di Inggris, Pelajaran Memilih Bra Diusulkan Masuk Kurikulum SD
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Semakin hari, masa puber datang semakin awal sehingga siswi-siswi usia sekolah dasar pun mulai tumbuh payudara. Di Inggris, fenomena ini memunculkan gagasan untuk memasukkan pelajaran memilih bra ke dalam kurikulum pendidikan formal.

Biasanya, tips-tips memilih bra yang sesuai dengan bentuk dan ukuran payudara cukup diajarkan oleh orang tua di rumah masing-masing. Namun Derby High School di Inggris mengumumkan, mulai September siswi-siswi umur 11 tahun akan mempelajari hal itu di sekolah.

Topik yang akan dibahas dalam pelajaran tersebut mencakup anatomi payudara, desain-desain bra untuk payudara anak dan cara-cara menentukan ukuran bra yang paling sesuai. Pelajaran ini akan diintegrasikan dalam Personal Health and Social Education (PHSE).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kesehatan payudara dan pemilihan ukuran bra sangat sensitif bagi anak perempuan dengan pertumbuhan yang berbeda-beda, dan ini penting karena memberikan pengalaman positif. Rasa tidak aman di masa muda akan terbawa sampai dewasa," kata Karan Hopkinson, guru yang telah mendapat pelatihan khusus mengajarkan materi tersebut ke siswi SD, seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (17/5/2013).

Dalam pelajaran memilih bra ini, Hopkinson akan menggunakan manekin sebagai alat peraga. Selain itu, ia juga telah menyiapkan booklet khusus untuk remaja usia 11-14 tahun, yang akan dibagikan mulai September saat kelas ini mulai berjalan di sekolah tempatnya bekerja.

Hopkinson menambahkan, 80 persen perempuan Inggris tidak pernah mendapatkan pelatihan formal mengenai cara-cara memilih bra. Hal-hal yang menyangkut bra dan payudara selalu dianggap tabu, sehingga tidak semua orang tua cakap mengajarkan pada anak perempuannya.

Meski demikian, ide ini juga mendapat kritik dari para aktivis. Steven Green dari Christian Voice misalnya, menilai gagasan ini sebagai upaya untuk mengatasi masalah yang sebenarnya tidak pernah ada.

"Pelajaran ini benar-benar menghamburkan jam pelajaran, memberikan sesuatu yang sudah bisa diberikan oleh orang tua di rumah masing-masing," kata Steven.

(up/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads