Studi: Ini Sebabnya Balita Terus Melakukan Hal yang Sama Meski Sudah Dilarang

Studi: Ini Sebabnya Balita Terus Melakukan Hal yang Sama Meski Sudah Dilarang

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 30 Mei 2013 07:05 WIB
Studi: Ini Sebabnya Balita Terus Melakukan Hal yang Sama Meski Sudah Dilarang
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Karena belum sepenuhnya mengerti tentang apa yang benar atau salah, banyak balita yang terus melakukan aktivitas yang sama, meski orangtuanya telah berkata tidak atau melarangnya. Ada apa di balik itu?

Dr. Paul Frankland, peneliti senior dari Hospital for Sick Children di Toronto, Kanada pun mengatakan bahwa infantile amnesia (childhood amnesia) alias amnesia pada bayi atau anak-anak ini diakibatkan oleh perkembangan sel-sel saraf yang begitu cepat di dalam hippocampus, bagian otak yang bertugas membuat daftar peristiwa dan menyimpannya sebagai memori.

Dalam studinya yang baru dipresentasikan pada pertemuan tahunan Canadian Association for Neuroscience tersebut, Dr. Frankland menjelaskan bahwa secara biologis, hippocampus bertugas untuk merekam setiap kejadian yang dialami si anak, termasuk menyimpannya sebagai memori jangka panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi karena selama tiga tahun pertama kehidupan seorang anak, akibatnya banyak energi yang tercurahkan untuk membentuk sel-sel saraf baru di dalam hippocampus sehingga tugas 'mendaftar' memori tadi tak pernah terealisasi.

"Jadi masalahnya hanyalah semata kelebihan beban," tandas Dr. Frankland seperti dilansir Daily Mail, Kamis (29/5/2013).

Sebenarnya memori-memori yang tersimpan di dalam otak sebelum si anak berusia tiga tahun memang benar-benar ada, hanya saja mereka tersimpan secara acak sehingga si anak kesulitan untuk mengingatnya kembali.

Untuk memastikan teorinya, Dr. Frankland mencoba memperlambat perkembangan hippocampus pada sekelompok bayi tikus. Awalnya Dr. Frankland mengajari bayi-bayi tikus itu caranya keluar dari dalam sebuah labirin. Namun sama halnya dengan manusia, bayi tikus itu pun lupa cara yang telah diajarkan setelah beberapa hari kemudian.

Hanya saja lama-kelamaan seiring dengan semakin lambatnya perkembangan sel-sel sarafnya, tikus-tikus muda ini pun mulai mampu menyimpan memori jangka panjangnya sehingga mereka dapat mengingat kembali rute yang diberikan.

Kendati begitu, Dr. Frankland masih berharap dapat mengujikan teorinya tersebut pada manusia, terutama pada anak-anak penderita kanker otak karena banyak diantara mereka yang menerima obat-obatan yang mempunyai efek samping memperlambat pertumbuhan sel-sel saraf di dalam hippocampus.

"Dari situ kita dapat mengecek apakah pengobatan ini dapat mempertahankan memori tentang berbagai hal yang terjadi sebelum kemoterapi atau tidak, seperti halnya yang terjadi pada tikus," pungkasnya.

(up/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads