Studi: Remaja Obesitas Berisiko Mengalami Gangguan Pendengaran

Studi: Remaja Obesitas Berisiko Mengalami Gangguan Pendengaran

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 20 Jun 2013 12:00 WIB
Studi: Remaja Obesitas Berisiko Mengalami Gangguan Pendengaran
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Jika tak kunjung ditangani, kondisi kelebihan berat badan atau obesitas pada remaja maupun orang dewasa dapat menyebabkan gangguan kesehatan lain. Misalnya saja tekanan darah tinggi, sakit jantung dan yang tak terduga adalah temuan studi baru yang mengatakan remaja obesitas berisiko mengalami gangguan pendengaran.

Peneliti memperoleh kesimpulan itu setelah menganalisis data dari 1.500 remaja berusia 12-19 tahun yang ambil bagian dalam National Health and Nutrition Examination Survey pada tahun 2005-2006. Setiap partisipan diwawancarai di rumah, dan peneliti mempertimbangkan juga riwayat medis keluarganya, kondisi medis si partisipan selama studi, obat-obatan yang dikonsumsi, mencari tahu adakah perokok di rumahnya, faktor demografis dan sosioekonominya, serta riwayat paparan kebisingan yang dialami si partisipan.

Dari situ peneliti menduga bahwa obesitas memicu terjadinya peradangan yang pada akhirnya mengakibatkan gangguan pendengaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi pada anak-anak/remaja dan orang dewasa yang mengalami obesitas ditemukan rendahnya kadar plasma protein anti-peradangan, adiponectin, dan hal ini dianggap memicu gangguan pendengaran frekuensi tinggi, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memahami percakapan orang lain.

Peneliti Profesor Anil Lalwani dari Department of Otolaryngology/Head & Neck Surgery, Columbia University Medical Center, AS mengatakan masalah pendengaran yang dialami remaja obesitas merupakan sensorineural hearing loss (SNHL) atau gangguan pendengaran yang terjadi akibat kerusakan sel-sel rambut di telinga bagian dalam.

Namun yang tercatat paling sering dialami remaja obesitas adalah risiko kehilangan pendengaran frekuensi rendah (low-frequency hearing loss). Persentasenya mencapai 15 persen, sedangkan remaja non-obesitas yang terkena gangguan pendengaran ini jumlahnya hanya 8 persen.

Orang-orang dengan gangguan pendengaran ini tak dapat mendengar suara-suara dengan frekuensi 2.000 Hz ke bawah. Mereka masih bisa memahami suara satu orang dengan baik, tapi mereka akan kesulitan untuk mendengarnya jika orang yang bersangkutan berbicara dalam kelompok atau di tengah lingkungan yang bising.

"Kondisi semacam ini memberikan sejumlah implikasi kesehatan publik yang cukup penting. Karena studi sebelumnya mengatakan 80 persen remaja yang kehilangan pendengarannya tidak menyadari kalau mereka mempunyai masalah itu," kata Dr. Lalwani.

Untuk itu, remaja yang obesitas, terutama, sebaiknya rutin menjalani screening pendengaran sehingga mereka bisa segera tertangani untuk menghindari gangguan perilaku hingga gangguan kognitif," tambahnya.

Kendati masalah gangguan pendengaran diantara remaja obesitas relatif ringan, namun yang mengkhawatirkan adalah peningkatan peluang remaja obesitas untuk mengalami kehilangan pendengaran frekuensi rendah yang hampir mencapai dua kali lipat.

Bahkan peneliti menduga cedera pada telinga bagian dalam yang terjadi sejak dini tersebut bisa jadi akan terus berkembang seiring dengan pertambahan usia si remaja.

"Untuk itu, gangguan pendengaran seharusnya ditambahkan pada daftar konsekuensi negatif dari obesitas yang mempengaruhi baik anak-anak maupun orang dewasa, agar semakin memotivasi orang-orang dari berbagai usia untuk menurunkan angka obesitas," tutup Dr. Lalwani seperti dilansir Daily Mail, Kamis (20/6/2013).



(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads