"Studi ini menambah bukti bahwa hukuman fisik erat kaitannya dengan kondisi mental dan fisik yang bersifat negatif," kata Tracie Afifi, yang memimpin studi ini dari University of Manitoba, Winnipeg, Canada seperti dilansir Reuters, Senin (15/7/2013).
Tahun lalu, Afifi dan rekan-rekannya baru saja mempublikasikan sebuah studi yang menemukan keterkaitan antara pemukulan dan penamparan pada anak terhadap tingginya risiko depresi dan gejala kecemasan yang mereka rasakan di kemudian hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap partisipan ditanyai apakah orangtua mereka atau orang dewasa lain yang tinggal serumah dengan partisipan sering mendorong, menampar, atau memukul mereka sebagai bentuk hukuman ketika partisipan masih kecil. Partisipan juga diminta melaporkan kondisi kesehatan mereka sekarang.
1.300 Partisipan mengaku mendapatkan hukuman fisik sedikitnya diistilahkan dengan kata 'terkadang' tanpa adanya pelecehan fisik maupun emosional ekstrim lebih lanjut. Tapi bila dibandingkan dengan partisipan yang tak pernah memperoleh hukuman fisik ketika masih kecil, partisipan yang kerap dihukum lebih sering didiagnosis mengidap penyakit kronis, minimal satu jenis penyakit.
Secara spesifik, peneliti memaparkan sejumlah gangguan kesehatan yang dialami partisipan yang mendapatkan hukuman fisik saat masih kecil diantaranya arthritis (25 persen) dan penyakit kardiovaskular (28 persen), meski temuan kedua menyatakan kondisi tersebut bisa saja terjadi karena kebetulan semata.
Selain itu, partisipan yang pernah dipukul atau ditampar juga lebih cenderung mengalami kelebihan berat badan (31 persen), sedangkan partisipan yang mengalami obesitas tapi tak punya riwayat hukuman fisik mencapai 26 persen.
"Pasalnya tak setiap anak yang dihukum dengan cara ditampar atau didorong tidak serta-merta mengidap gangguan kesehatan fisik maupun mental. Tapi rasa nyeri dan peradangan akibat hukuman fisik, begitu pula dengan respons perilaku maupun psikologis ketika dipukul, dapat menyebabkan masalah jangka panjang pada anak-anak tertentu," terang Afifi.
"Jadi ini bukanlah metode untuk mendisiplinkan anak yang paling aman. Anak Anda mungkin tampak baik-baik saja, tapi bisa jadi sebenarnya tidak," tambahnya.











































