"Puasa untuk anak harus disesuaikan tumbuh kembangnya. Karena anak sedang dalam masa tumbuh kembang, sehingga jika dia kekurangan energi tidak hanya lemas, namun juga dapat membuat anak tidak tumbuh dengan baik," tutur dr Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK selaku ahli gizi.
Hal ini ia sampaikan pada acara 'Puasa Sehat dan Nikmat Bersama Buavita Frutarian' di Masjid Istiqlal, Jl Taman Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Rabu (17/7/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi sebaiknya latihan puasa pada anak mulai diterapkan ketika anak sudah melewati masa balita, atau pertumbuhannya sudah optimal. "Kalau anak masih terlalu kecil atau balita tumbuh kembangnya sangat besar, sehingga jika tertinggal saat balita, makan sedikit, ditambah puasa, anak akan tertinggal tumbuh kembangnya," tambah dr Fiastuti.
Untuk porsi makan, dr Fiastuti mengatakan porsi atau cara makan pada anak yang berpuasa sama dengan orang dewasa. Asupannya yakni 40 persen santapan pada saat sahur disertai air 3 gelas. Sedangkan pada saat berbuka 60 persen santapan, ditambah konsumsi panganan manis yang cukup dan minum 5 gelas air.
"Kadar gula dalam tubuh berkurang setelah 10 jam, demikian juga pada anak. Maka dari itu dia harus minum yang manis, sehingga kadar gulanya tidak terlalu drop," tutup dr Fiastuti.
(vit/vit)











































