Rabu, 17 Jul 2013 17:07 WIB

Orang Tua dengan Kondisi Ini Berisiko Punya Anak Berkebutuhan Khusus

- detikHealth
Kepala BKKBN Fasli Jalal (dok: Agus/detikHealth)
Jakarta - Anak merupakan investasi masa depan. Oleh karena itu, setiap orang tua tentu selalu mengharapkan yang terbaik buat buah hatinya. Sayangnya, beberapa anak ada yang mengalami hambatan dalam perkembangannya sehingga memerlukan perawatan khusus.

Anak-anak seperti ini lebih akrab disebut sebagai anak berkebutuhan khusus, yaitu anak dengan karakteristik tertentu yang selalu menunjukan ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Misalnya, anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, dan anak dengan gangguan kesehatan.

Karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki, anak-anak ini memerlukan perawatan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensinya. Berdasarkan beberapa studi yang telah ada, ternyata risiko anak-anak mengalami hambatan dan gangguan ikut dipengaruhi oleh kondisi orang tuanya.


"Kalau orang tuanya terlalu muda, misalnya di bawah umur kematangan uterus, sirkulasi darah, tidak siap psikologisnya, mereka punya prevalensi lebih tinggi punya anak berkebutuhan khusus. Kemudian kalau terlalu tua, umurnya sudah di atas 40 tahun, itu risikonya juga lebih tinggi," kata Prof dr H. Fasli Jalal SpGK, PhD, kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Hal itu disampaikan Fasli dalam acara seminar Parenting Education dalam rangka Hari Anak Nasional 2013 yang diselenggarakan di Auditorium BKKBN, Jl Permata No 1 Halim Perdana Kusumah, Jakarta, Rabu (17/7/2013). Pemerintah sendiri lewat BKKBN sebenarnya sudah menganjurkan bahwa usia menikah ideal untuk wanita adalah 20-35 tahun dan 25-40 tahun untuk pria.


Pertimbangannya, pada umur 20 tahun ke atas, organ reproduksi wanita sudah siap mengandung dan melahirkan. Sedangkan pada usia 35 tahun mulai terjadi proses degeneratif atau penurunan fungsi organ. Selain itu, kematangan psikologis mulai dicapai saat berumur 20 tahun.

Ternyata selain kedua hal yang disebut di atas, masih ada lagi faktor lain yang berisiko membuat anak terlahir berkebutuhan khusus. Prof Fasli menyebutkan bahwa jarak persalinan terlalu dekat dan jumlah anak yang terlalu banyak juga ikut meningkatkan risiko yang mengancam buah hati.

"Kalau jarak persalinan terlalu dekat, misalnya setahun sudah melahirkan lagi, suplai darah dan kematangan uterus tidak cukup untuk menyuburkan bayi. Akhirnya kekurangan ini menyebabkan mereka lebih tinggi kemungkinannya memilki bayi berkebutuhan khusus. Kemudian kalau punya banyak anak, misalnya 3 tahun sekali punya anak itu terlalu banyak," terangnya.

Keempat faktor risiko tersebut, yaitu terlalu muda melahirkan, terlalu tua untuk melahirkan, terlalu rapat jarak kelahiran dan terlalu banyak anak, sudah digembar-gemborkan oleh BKKBN untuk dijauhi masyarakat. Lembaga ini menyebutnya 'Empat Terlalu', melengkapi slogan yang sudah lama ada, 'Dua Anak Cukup'.

(pah/vit)