Nah, BBLR tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab ada risiko-risiko yang menghantui bayi-bayi dengan kondisi ini.
"Perkembangan otak dimulai pada masa kehamilan. Nah, ibu hamil yang kurang gizi berisiko memiliki bayi BBLR," terang Guru Besar Teknologi dan Pangan IPB, Prof Dr Made Astawan, MS dalam diskusi 'Peran Budaya dalam Pemenuhan Gizi Ibu dan Anak' yang digelar Sarihusada di Hotel Sultan, Jl Gatot Subroto, Jakarta, dan ditulis pada Kamis (18/7/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pemberian nutrisi pada saat janin dan anak akan berdampak pada perkembangan otak, yang akhirnya berdampak pada kemampuan kognitif dan edukasional," kata Prof Made.
Apalagi periode emas pertumbuhan otak anak, pertama terjadi selama masa kehamilan (80 persen), dan kedua di usia 1-18 tahun (20 persen)
Nutrisi dini juga akan berpengaruh pada pertumbuhan dan masa otot, serta komposisi tubuh. Hal ini akan berpengaruh pada imunitas dan kemampuan kerja. Periode emas pertumbuhan tinggi badan adalah terjadi selama masa kehamilan dan ketika anak berusia usia 10 hingga 13 tahun.
"Saat ini 35,6 persen anak usia sekolah pendek. Ini sisebabkan oleh kurang gizi kronis," ucap pria berkacamata ini.
(vit/up)











































