Anak dengan Autisme pun Bisa Ikut Andil di Tim Olahraga

Anak dengan Autisme pun Bisa Ikut Andil di Tim Olahraga

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 05 Sep 2013 15:35 WIB
Anak dengan Autisme pun Bisa Ikut Andil di Tim Olahraga
Foto: Ilustrasi/ Thinkstock
Jakarta - Anak-anak penyandang autis atau yang mengalami gangguan perkembangan, terkadang mengisolasi diri dari lingkungan sekitar. Tapi jangan salah, dengan adanya program olahraga, anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka juga bisa andil dalam sebuah tim olahraga, lho.

Salah satu atlet basket ternama, "Mighty" Mike Simmel, didiagnosis mengalami epilepsi saat usianya dua tahun. Saat berumur 16 tahun, ia ikut berpartisipasi dalam sebuah kamp olahraga dan waktu itu Simmel kejang-kejang hingga ia disuruh pulang dan tak boleh kembali lagi.

Tak kenal kata menyerah, Simmel belajar mengelola kondisinya melalui pengobatan dan terapi. Tahun 2001, ia menjadi anggota tim basket terkenal di dunia, Harlem Wizard. Empat tahun pasca bergabung dengan tim basketnya, Simmel memutuskan bahwa tidak anak yang harus merasa bahwa mereka tidak bisa jadi bagian dari permainan. Oleh karena itu, Simmel pun mendirikan Bounce Out the Stigma Project.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak-anak berpikir bahwa tidak ada orang yang tidak seperti mereka dan kemudian mereka hanya ke sini dan merasa 'oh wow, kau tahu apa, kau hanya seperti saya dan kita semua bersama, kita sebagai salah satu tim yang besar," kata Simmel, seperti dikutip dari Fox News, Kamis (5/9/2013).

Bounce Out the Stigma Project memungkinkan anak-anak autis, ADD, ADHD, epilepsi, diabetes, dan yang mengalami gangguan lain menjadi bagian dari tim basket dan bermain dengan anak-anak lain yang mengalami masalah medis yang sama.

Menurut Dr Walter Molofsky, kepala neurologi pediatrik di Beth Israel Medical Center di New York City, olahraga tim seperti basket memiliki banyak manfaat bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.

"Anak-anak perlu mengembangkan kemampuan motorik halus, keterampilan motorik kasar, dan daya tahan mereka. Latihan bisa membantu mereka menjadi bugar dan bersosialisasi,' kata Molofsky.

"Anda ingin mereka memiliki pengalaman yang sama seperti saudara atau teman mereka yang tidak memiliki tantangan, dalam hal ini keterbatasan, seperti yang mereka miliki," imbuh Molofsky.

Alice Wright mendaftarkan putrinya, Rebecca (14) yang mengalami gangguan spektrum autisme di Bounce Out the Stigma Project sejak enam bulan lalu. Ia mengaku melihat banyak perubahan positif pada putrinya.

"Dia benar-benar tumbuh secara sosial dan keterampilannya berkembang. Dia menyadari bahwa dia mampu melakukan sesuatu dan yakin dengan adanya dia di sini, maka ia bisa mengasah keterampilan yang dimilikinya," papar Alice.

Ia menambahkan Rebecca kini memiliki pengalaman yang baik dan dia bisa memulai tahun ajaran baru sekolah dengan lebih bersemangat. "Kemajuan itu adalah segalanya bagi saya," ujar Alice.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads