Metode baru untuk membantu menurunkan berat badan pada anak obesitas ini dikembangkan oleh tim gabungan dari AS dan Kanada. Caranya antara lain dengan memfokuskan perubahan pada empat kebiasaan anak di rumah; yaitu mengurangi jam menonton televisi anak, menambah jam tidur mereka, tidak meletakkan TV di kamar anak serta mendorong keluarga agar makan malam bersama secara rutin.
Mengapa yang disasar peneliti adalah keempat kebiasaan itu? Selama ini keempat-empatnya diketahui memiliki keterkaitan yang erat dengan berat badan ideal pada anak. Jadi para peneliti percaya jika anak yang memiliki berat badan ideal mendapatkan jam tidur yang memadai secara rutin, selalu makan bersama keluarganya, memiliki jam menonton televisi yang terbatas dan tidak memiliki televisi di kamarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Elsie Taveras dari Harvard Medical School, Boston dan Jess Haines dari University of Guelph, Ontario, Kanada berhasil mengenalkan keempat kebiasaan ini di sejumlah keluarga berpendapatan rendah di kawasan Boston.
Peneliti mengaku melibatkan 121 keluarga yang anak-anaknya kelebihan berat badan dan kamar anaknya dilengkapi dengan televisi. Kemudian mereka dibagi menjadi dua kelompok; 59 keluarga yang menerima informasi tentang kebiasaan sehat yang dikembangkan peneliti lewat beberapa surat yang dikirimkan selama enam bulan (kelompok kontrol), sedangkan 62 keluarga lainnya menerima konseling di rumah secara langsung terkait kebiasaan ini (kelompok intervensi).
Ternyata anak-anak yang diberi konseling langsung memperoleh penambahan jam tidur hingga setengah jam perhari, jam menonton TV-nya berkurang hingga satu jam perhari dan indeks massa tubuhnya (BMI) menurun sebesar 20 persen. Sebaliknya anak-anak pada kelompok kontrol hanya mengalami sedikit pengurangan jam tidur dan justru BMI-nya bertambah 20 persen.
Menurut peneliti, satu-satunya penghambat metode intervensi ini adalah biayanya. Untuk melakukan percobaan ini saja, peneliti harus menyewa dan melatih empat edukator kesehatan yang harus mengunjungi rumah partisipan sebanyak empat kali, termasuk terus memantau perkembangan di rumah-rumah itu lewat telepon.
"Kendati begitu saya tetap optimis dengan potensi perubahan kebiasaan di rumah terhadap upaya pencegahan obesitas pada anak," tandas Sarah Anderson, associate professor epidemiologi dari Ohio State University College of Public Health, Columbus, yang tidak terlibat dalam studi ini, seperti dikutip dari Health, Rabu (11/9/2013).
"Bahkan sangat memungkinkan jika kebiasaan ala rumahan inilah yang paling efektif dalam mendorong berat badan sehat pada anak, apalagi kalau dikombinasikan dengan interaksi antara anak dengan orangtua yang responsif dan mendukung penuh metode baru ini," tutupnya.
(vit/vit)











































