76 Persen Anak Usia Sekolah di Makassar Alami Kerusakan Gigi

76 Persen Anak Usia Sekolah di Makassar Alami Kerusakan Gigi

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jumat, 13 Sep 2013 09:31 WIB
76 Persen Anak Usia Sekolah di Makassar Alami Kerusakan Gigi
Foto: Ilustrasi/ Thinkstock
Makassar - Walaupun terdiri dari tulang dan jaringan keras, gigi yang tak dirawat juga bisa aus. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, ternyata kesehatan gigi dan mulut masih dianggap sepele. Misalnya saja di Makassar, ternyata sebagian besar anak sekolah mengalami karies gigi.

"Hasil survei kesehatan gigi masyarakat FKG Unhas tahun 2012 mengungkapkan, 76 persen anak usia sekolah di Makassar mempunyai karies gigi," kata prof drg Mansjur Nasir, PhD, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Univesitas Hasanudin dalam acara Kick Off Bulan Kesehatan Gigi Nasional di Lapangan Karebosi, Makasar, dan ditulis pada Jumat (13/9/2013).

Karies gigi adalah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi. Penyakit ini merupakan penyebab gigi berlubang dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan nyeri, gigi tanggal, infeksi, dan berbagai kasus berbahaya lainnya. Kurangnya kebersihan gigi adalah penyebab utama munculnya karies.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prof Mansjur menerangkan tingginya prevalensi karies gigi tersebut juga bisa disebabkan karena kurangnya edukasi orang tua terhadap pentingnya merawat gigi anak sejak dini, termasuk gigi susu. Email atau lapisan pelindung gigi pada gigi susu memang lebih tipis sehingga rentan rusak.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 yang menemukan bahwa komponen gigi hilang dari indeks gigi berlubang (DMTF) di Makassar merupakan yang tertinggi di Indonesia. Cukup beralasan jika melihat kunjungan ke dokter gigi di sana hanya mencapai 10,7 persen, sedangkan rata-rata nasional 13,3 persen.

"Perlu disadari oleh orang tua bahwa akan muncul dampak psikologis pada anak jika gigi susu tidak dirawat dengan baik, anak dapat merasa rendah diri karena tampilan gigi yang buruk," terang drg Zaura Rini Anggraini, MDS, ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI).

Tak hanya itu, rasa sakit gigi berkepanjangan juga akan membuat anak tertinggal dalam pelajaran, mempengaruhi konsentrasi saat belajar dan jika dibiarkan dapat mempengaruhi keberhasilan akademiknya. Masalah pada gigi susu juga dapat berakibat pada gangguan fungsi kunyah dan kesulitan pelafalan huruf saat berbicara.

Sebagai contoh nyata, dalam Bulan Kesehatan Gigi Nasional tahun 2012 lalu yang diadakan di Makassar, perawatan yang paling banyak dilakukan adalah pencabutan gigi, penambalan, dan scaling. Hal ini menunjukkan masih banyak masyarakat di sana yang tak menyadari adanya masalah pada giginya.

Ketika itu, event nasional ini berhasil menggaet 1.952 orang pasien di Makassar. Maka pada penyelanggaraan kali ini, diharapkan animo masyarakat bertambah. Sebanyak 341 profesional sudah disiagakan untuk memberi pemeriksaan dan perawatan gigi gratis, juga 50 calon dokter gigi untuk memberi edukasi kepada masyarakat.

(pah/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads