Mahasiswa Baru di China Diminta Teken Surat Sangkalan Bunuh Diri

Mahasiswa Baru di China Diminta Teken Surat Sangkalan Bunuh Diri

Ashrini Shabiani TS Annisa - detikHealth
Jumat, 20 Sep 2013 13:43 WIB
Mahasiswa Baru di China Diminta Teken Surat Sangkalan Bunuh Diri
Foto: Ilustrasi/ Thinkstock
Jakarta - Ketika masuk menjadi mendaftar di salah satu universitas, mahasiswa baru wajarnya menandatangani surat perjanjian taat peraturan universitas. Tapi lain dengan universitas di China yang satu ini, para mahasiswa baru diminta untuk menandatangani surat sangkalan bunuh diri.

Sebuah universitas di provinsi Guangdong meminta mahasiswa baru untuk mendatangani kontrak pada hari Minggu untuk bertanggung jawab atas kasus bunuh diri dan cedera yang dialaminya. Artinya universitas tidak bertanggung jawab jika sesuatu terjadi pada mereka.

Sesuai dengan kontrak, para siswa harus menanggung semua tanggung jawab dan konsekuensi jika mereka melakukan bunuh diri atau melukai diri sendiri di kampus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Asia One, Jumat (20/9/2013), lebih dari 5.000 mahasiswa di City College of Dongguan University of Technology menandatangani kontrak sangkalan bunuh diri ketika mereka mendaftar untuk sekolah. Media lokal melaporkan bahwa kontrak tersebut dibuat setelah seorang mahasiswa laki-laki menusuk dan melukai seorang teman perempuannya di asrama universitas setelah perempuan tersebut menolak untuk menjadi pacarnya pada tahun ajaran lalu.

Namun seorang pejabat perguruan tinggi, yang tidak disebutkan namanya dan tidak akan mengungkapkan rincian kasus, membantah kontrak tersebut ada hubungannya dengan kasus penusukan di tahun ajaran lalu. "Kontrak ini hanya 'kode etik asrama'," ujar pejabat tersebut.

Perguruan tinggi mengharapkan mereka akan mematuhi aturan sekolah dan mengurus diri sendiri setelah menandatangani kontrak.

Pada hari Minggu, beberapa mahasiswa mengatakan mereka bisa memahami keputusan sekolah, karena banyak kasus bunuh diri dan melukai diri saat ini yang tidak ada hubungannya dengan tekanan studi. Namun bunuh diri biasanya berkaitan dengan masalah cinta, tekanan kerja, latar belakang keluarga dan masalah interpersonal.

Bagaimanapun kontrak seperti ini pastinya banyak mendatangkan protes dari para orang tua, karena orang tua beranggapan bahwa seharusnya sekolah ikut bertanggung jawab. Banyak orang tua yang mengatakan bahwa ini adalah cara bagi perguruan tinggi untuk menghindari tanggung jawab.

Seorang ayah, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa ia mengirim anaknya ke asrama unversitas karena ia percaya itu adalah lingkungan yang aman bagi siswa.

"Universitas seharusnya tidak melempar tanggung jawab ketika ada hal-hal yang terjadi di kampus," katanya.

Xiong Bingqi, wakil direktur 21st Century Education Research Institute mengatakan, "Merupakan manajemen yang sederhana dan kasar ketika meminta siswa untuk menandatangani kontrak sangkalan bunuh diri.

Xiong mendesak universitas dan perguruan tinggi untuk lebih memperhatikan perbaikan lingkungan hidup dan belajar bagi siswa untuk mencegah kasus seperti itu terjadi.

(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads