"Kalau anak cuma suka tepung-tepungan saja enggak suka sayur sama buah, nanti bisa ada kasus seperti pasien saya dia tidak bisa BAB selama tujuh hari, kalau bisa diatasi dengan obat masih mending, tapi kalau tidak kan harus dioperasi," kata ahli gizi Dr Pauline Endang Praptini, MS, SpGK.
Menurut dr Pauline, serat terbagi menjadi dua jenis yaitu serat larut dan serat tidak larut. Serat larut bisa bertindak sebagai prebiotik yang memberi nutrisi sel usus sehingga mencegah diare atau sembelit. Sedangkan, serat tidak larut bisa memperbesar volume feses, mempermudah proses buang air besar, dan mencegah wasir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keterangan itu disampaikan dokter yang berpraktik di RS Fatmawati ini dalam Media Workshop Sehatnya Duniaku 'Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu, dan Bergizi' di Seremanis Resto, Jl KH Agus Salim, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Kamis (10/10/2013).
Selain serat, anak-anak usia sekolah juga perlu mendapat asupan karbohidrat, protein, dan lemak yang memadai sebagai sumber energi untuk sel otak, sel saraf, dan sel darah mereka.
"Karena kalau energinya tidak maksimal, daya pikir anak di sekolah akan menurun terutama mereka yang tidak sarapan," kata dr Pauline.
Karbohidrat yang dianjurkan untuk dikonsumsi adalah karbohidrat kompleks karena memiliki indeks glikemik rendah dan mengandung serat. Karbohidrat kompleks terkandung dalam beras, sereal, umbi-umbian, serta sayur dan buah. Sedangkan, karbohidrat sederhana seperti gula murni dianjurkan hanya lima persen dari energi total.
"Karena itu indeks glikemiknya tinggi. Kalau terlalu banyak beban sel pankreas bertambah, fungsinya turun dan nanti di usia 40-an muncul diabetes," ucap dr Pauline.
Untuk pemenuhan kebutuhan protein, dr Pauline menekankan perlu adanya kombinasi antara protein hewani dan nabati. Jika hanya protein hewani saja yang dipenuhi, kadar kolesterol anak-anak bisa tinggi. Selain itu, kebutuhan lemak bisa terpenuhi melalui lemak tak jenuh omega 3 yang banyak terkandung di ikan laut.
"Omega 3 bisa bertindak sebagai antiinflamasi dan mengencerkan darah. Jenis lemak tak jenuh lainnya, seperti omega 6 pada minyak jagung atau minyak bunga matahari tidak dianjurkan terlalu banyak karena bisa menyebabkan peradangan non infeksi dan kekentalan darah" jelas dokter berkacamata ini.
"Lemak trans seperti mentega juga tidak dianjurkan terlalu banyak karena bisa picu kolesterol. Walaupun masih anak-anak mereka juga bisa kena kolesterol lho," imbuh dr Pauline.
(/)











































