Anak yang Pernah Kena Cacar Air Juga Berisiko Stroke?

Anak yang Pernah Kena Cacar Air Juga Berisiko Stroke?

- detikHealth
Kamis, 31 Okt 2013 09:59 WIB
Anak yang Pernah Kena Cacar Air Juga Berisiko Stroke?
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Meski terbilang ringan, cacar air yang terjadi pada anak-anak tak dapat diremehkan begitu saja karena mudah menular dan dapat menimbulkan komplikasi jika tak kunjung ditanggulangi. Bahkan sebuah studi baru mengungkapkan cacar air dapat memunculkan risiko stroke pada si anak. Bagaimana bisa?

Setelah mengamati rekam medis 49 anak yang pernah mengalami cacar air sekaligus stroke selama studi berlangsung, yaitu 6,5 tahun, peneliti menemukan bahwa anak-anak berpeluang empat kali lebih besar mengidap stroke enam bulan setelah terserang cacar air. Demikian dilansir Livescience, Kamis (31/10/2013).

Peneliti menduga bisa jadi virus penyebab cacar air, yaitu Varisela zoster merusak atau menyebabkan arteri pada si anak meradang, sehingga meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah, yang pada akhirnya berujung pada stroke. Lagipula menurut peneliti, virus cacar air dapat berkembang biak dalam dinding-dinding arteri di otak dan hal ini juga bisa memicu stroke.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun National Stroke Association mengatakan serangan stroke pada anak terbilang sangat jarang. Tercatat hanya 6 dari setiap 100.000 anak berusia di bawah 15 tahun yang mengidap stroke setiap tahunnya. Itu artinya risiko stroke yang dimiliki seorang anak setelah terserang cacar air dapat dikatakan sangat kecil.

Kendati begitu, studi baru yang dilakukan tim peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine ini memberikan bukti tambahan adanya kaitan antara cacar air dengan stroke. Pasalnya studi lain yang dirilis pada tahun 2001 juga menemukan 31 persen anak yang mengidap stroke ternyata terserang cacar air setahun sebelumnya.

"Setidaknya studi ini menggambarkan pentingnya imunisasi melawan virus Varicella untuk mengurangi risiko komplikasi dari cacar air, meski kasusnya sangat jarang," tanggap Dr. Warren Lo, seorang pakar neurologi dari Nationwide Children's Hospital, Columbus, Ohio, yang tidak terlibat dalam studi ini.

(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads