Dilaporkan Wall Street Journal, studi baru menemukan bahwa kebiasaan anak kecil berbicara dengan teman khayalannnya bisa memacu perkembangan dialog batin yang bisa mereka gunakan untuk berbicara dengan dirinya sendiri ketika menghadapi suatu masalah di masa mendatang.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Child Psychology menyatakan bahwa obrolan dengan teman khayalan merupakan implementasi dari pembicaraan anak dengan dirinya sendiri dan bentuk lisan dari pikirannya. Hal itu bermanfaat untuk meningkatkan kinerja pada tugas kognitif seperti perencanaan dan memecahkan teka-teki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada usia tujuh tahun, sekitar 37 persen anak-anak sering bermain dengan menciptakan sosok imajiner untuknya. Kadang teman ini diciptakan hanya untuk bersenang-senang tapi beberapa studi kasus menunjukkan teman imajiner dibentuk untuk membantu anak mengatasi pengalaman traumatisnya," jelas Marjorie Taylor dari University of Toronto.
Sehingga, menurut Taylor, orang tua tak perlu panik jika anaknya memiliki teman khayalan. Seperti pengalaman pemilik DadCamp yang putrinya memiliki teman khayalan sejak ia duduk di bangku TK hingga saat ini si anak kelas dua SD.
Ia bercerita saat bertanya di mana teman khayalan putrinya sekarang, si anak mengatakan temannya ada di Hawaii dan jika ia sedang membutuhkannya, teman khayalan itu akan datang. Terlepas dari khayalan atau nyata, menurut sang ayah teman adalah hal besar yang dimiliki anak-anak dan bisa membuat mereka bahagia.
(/up)











































