Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan bahwa angka kesakitan (morbiditas) pneumonia pada bayi adalah 2,2 persen dan balita 3 persen. Sementara angka kematian (mortalitas) pada bayi 23,8 persen dan balita 15,5 persen.
Data lembar fakta World Health Organization (WHO) tahun 2013 juga menunjukkan fakta yang sama. Pneumonia atau radang paru akut dinyatakan menjadi penyebab kematian terhadap sekitar 1,2 juta anak setiap tahunnya. Dengan angka ibi, dapat dikatakan setiap jamnya ada 230 anak di dunia yang meninggal karena pneumonia. Angka ini bahkan melebihi angka kematian yang disebabkan oleh AIDS, malaria, dan tuberkulosis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Prof Bambang, pneumonia merupakan peradangan atau inflamasi yang terdapat pada parenkim paru. Kondisi ini ditandai dengan adanya batuk, sesak napas, demam, dan infiltrat pada foto rontgen. Namun gejala yang paling penting diperhatikan adalah adanya napas cepat pada anak.
"Seringkali orang tua telat membawa anak ke dokter untuk diobati. Datang ke dokter sudah dalam kondisi berat. Inilah yang membuat pneumonia mematikan," tutur Prof Bambang.
Prof Bambang juga mengungkapkan, dalam kebanyakan kasus penyebab utama pneumonia pada balita adalah bakteri jenis Streptococcus pneumonia. Bakteri lain yang sering menjadi penyebab kedua pneumonia adalah bakteri Haemophilus influenza tipe b atau Hib.
"Pneumonia dapat ditularkan melalui beberapa cara, salah satunya melalui udara lewat percikan ludah saat penderita bersin, batuk, ataupun berbicara," terang Prof Bambang.
(ajg/)










































