"Mereka yang seperti itu misalnya nyolek temen dan narik rambut, nyolek pantat, bagi lingkungan yang tidak paham dia akan shock, temenya akan teriak. Kalau seperti itu bukan hanya individu autistiknya yang harus diperhatikan ,tapi lingkungannya juga," tutur psikolog RA. Oriza Sativa, S.Psi, Psi, CH,CCR, di acara Talk Show ‘Biomarker Skrining untuk Autisme: Sebuah Langkah Besar untuk Pendeteksian Berbasis Ilmiah’ di RSIA Grand Family, Penjaringan, Jakarta Utara, dan ditulis Minggu (17/11/2013).
"Orang tua bisa ngasih tahu guru sama temanya bahwa si anak ini spesial, maka dari itu mohon maaf kalau dia melakukan sesuatu yang agak unik. Kalau pas lagi diajak ke mal, tiba-tiba dia 'iseng' sama orang lain, jangan malu. Cukup bilang minta maaf pada orang yang bersangkutan lalu jelaskan kondisi bahwa anak Anda spesial," papar Oriza.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat usianya di atas 18 tahun, orang tua bisa menyalurkan hobi anak dengan serius. Nah, diagnosis yang pas sehingga anak bisa mendapat terapi yang tepat bisa dilakukan saat anak berusia di bawah lima tahun. Ketika berumur 5-10 tahun, orang tua juga perlu memberi pengertian pada saudara kandung si anak bahwa adik atau kakaknya butuh perhatian khusus.
"Selain itu pengasuhan juga kita sesuaikan sama karakteristiknya. Antara lain tempetantrum (suka mengamuk karena dipaksa melakukan sesuatu), hipersensitivitas pada cahaya, suara, atau keramaian, agresif, suka meniru, dan punya bahasa sendiri," jelas Oriza.
Khusus bagi anak yang agresif, Oriza menyarankan para orang tua untuk mengurangi jam menonton televisi anak. Sebab, anak-anak yang agresif cenderung memiliki visual attention yang lebih tajam sehingga mereka lebih mudah menirukan adegan yang ada di televisi, terutama adegan kekerasan.
(/)










































