Sekolah Gratis Meringankan Mantan Bocah Perokok Ini Menimba Ilmu

Sekolah Gratis Meringankan Mantan Bocah Perokok Ini Menimba Ilmu

Muhammad Aminudin, Vela Andapita - detikHealth
Kamis, 21 Nov 2013 18:07 WIB
Sekolah Gratis Meringankan Mantan Bocah Perokok Ini Menimba Ilmu
Foto: Aminudin/detikcom
Jakarta -

Program sekolah gratis yang sudah berjalan sejak lama meringankan Sandi Adi Susanto, si mantan bocah perokok, mengenyam pendidikan di SD Negeri Cipto Mulyo 2, Kota Malang, Jawa Timur. Artinya orang tua Sandi tak perlu mengeluarkan biaya sekolah untuk putra bungsunya tersebut.

"Di sini gratis dari kelas I sampai 6. Dan itu berlaku juga untuk Sandi," tegas Kasek Jinarsih ditemui detikHealth di ruang kerjanya, Kamis (21/11/2013) pagi.

Bahkan, Jinarsih mengaku para guru bersuka rela membantu kebutuhan alat sekolah bagi Sandi, mulai dari tas, buku, dan juga alat tulis. "Tas, buku, alat tulis, kami bergotong-royong memberikan untuk Sandi. Semua karena melihat kondisi keluarganya," terang Jinarsih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengungkapkan perubahan dratis memang telah terjadi pada Sandi. Jika disinggung soal merokok atau bicara kotor, Sandi tegas menolak. "Seringkali saya tanya soal kebiasaan dia sebelumnya, 'jawabnya tidak, saya tak begitu sekarang'," ungkap Jinarsih menirukan jawaban Sandi.

Budyo Cahyono, pengajar lain ikut menyatakan hal sama terkait kebiasaan buruk Sandi sudah hilang. Sandi kini layaknya bocah sebayanya. "Sudah nggak seperti dulu," ucapnya.

SD Negeri Cipto Mulyo 2 sengaja membuat pembinaan ilmu terhadap Sandi mengalir seperti anak lainnya. Artinya tanpa perhatian khusus untuk mengasah kemampuan bocah tersebut. "Biar dia belajar bersama teman-temannya, itu sangat memudahkan bisa cepat bisa menerima semua materi yang diberikan guru. Tapi bukan berarti Sandi dibiarkan, tetap secara menjadi prioritas kami," tutup Jinarsih.

Keadaan finansial keluarga Sandi memang pas-pasan. Sandi tinggal bersama orang tua dan kakaknya. Sang ayah harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Menurut sang ibunda, Mujiati, dulu selama Sandi menjalani rehabilitasi untuk melepas kebiasaan buruknya, dijanjikan akan memperoleh pendidikan gratis serta subsidi untuk menopang hidupnya bersama orang tuanya. "Tidak ada bantuan untuk sekolah gratis, ya bapaknya yang harus nanggung," ucap Mujiati.

Sedangkan menurut kakak Sandi, Sureni (30), dulu sempat ada kucuran bantuan dari Pemerintah Kota Malang, dengan memberikan uang pembinaan bagi adiknya sebesar Rp 1,5 juta per bulan. Namun bantuan tersebut hanya berjalan selama 7 bulan saja.

"Hanya 7 bulan, uang pembinaan Rp 1,5 juta itu cair. Dulu ambilnya di Kelurahan Kasin. Entah ada apa, saat mengambil itu lagi bulan depannya, katanya sudah tidak ada lagi," kata Sureni.

"Kalau begini, siapa yang tanggung jawab. Dulu adik saya dicari-cari media untuk diekspos dan dapat perhatian pemerintah," cetusnya.

Keluarga Sandi juga pernah menyurati Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar untuk meminta perhatian. Akan tetapi menurut keterangan Pemkot Malang, pihak daerah-lah yang mengurus Sandi, sehingga tidak perlu mengirim surat ke Jakarta. Tak berhenti sampai situ, Sureni juga pernah memperjuangkan pembinaan adiknya kepada walikota terpilih, M Anton. Namun menurutnya hingga saat ini Pak Walikota belum sempat datang berkunjung.

(/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads