Nah, menurut ketua divisi tumbuh kembang anak bidang ilmu kesehatan anak FK UNAIR/RSU DR Soetomo Surabaya, Dr.dr. Ahmad Suryawan SpA(K), tidak mudah mendiagnosa anak hiperaktif. Sebab, diagnosa apakah benar anak mengalami gangguan perilaku atau tidak harus ditegakkan melalui pengamatan sehari-hari.
"Jadi jangan langsung mengatakan anak aktif itu hiperaktif. Sebagian besar anak aktif tidak hiperaktif. Kita (dokter) amati bersama orang tua kemudian menggunakan parameter-parameter yang obyektif baru bisa kita katakan anak ini benar-benar hiperaktif atau tidak," tutur pria yang akrab disapa dr Wawan ini kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (27/11/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Boleh khawatir tapi belum tentu anaknya hiperaktif, lho. Nanti dokternya akan memastikan apakah anak ini benar hiperaktif atau tidak dengan menggunakan parameter yang obyektif. Jadi, tidak dengan parameter perbandingan dengan anak lain," jelas dr Wawan.
Setelah itu, ketika diagnosis sudah didapatkan, menurut dr Wawan, dokter dan yang utama adalah orang tua harus konsekuen menjalankan program atau terapi untuk mengatasi gangguan perilaku tersebut.
"Sekali kita mendiagnosis berarti kita harus konsekuen menjalankan program-program untuk mengatasi gangguan perilaku si anak ini," kata dr Wawan.
(/up)











































