"Dulu seks itu dikatakan tabu, sehingga anak dan orang tua sama sekali tidak mau membicarakannya. Padahal tanpa pembicaraan tentang seks yang merupakan bagian sex education, anak-anak jadi takut buta. Lalu mereka mencari-cari tahu sendiri," kata dokter kandungan di RS Bethsaida, dr Ricky Susanto, M.Kes SpOG.
Hal itu disampaikan dia dalam parenting talkshow yang digelar Stella Maris International Education di Bethsaida Hospital, Jl Boulevard Gading Serpong Paramount, Tangerang, Sabtu (30/11/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diterangkan dia, saat ini anak-anak sudah banyak yang memegang iPad dan smartphone. Internet semakin mudah dijangkau. Artinya saat ini informasi sudah semakin mendekati anak. Sehingga paparan hal-hal berbau seks ataupun pornografi semakin mudah.
Ketika anak sudah memasuki masa puber, di mana sebagai manusia bisa bereproduksi, meski organ-organ dan keadaan psikologisnya belum siap benar, orang tua perlu memberi pendidikan seks yang matang. Hal ini diperlukan agar anak tidak terjebak pada pemahaman seks yang salah dan bahkan seks bebas untuk sekadar coba-coba.
"Coba-coba sekali tapi ternyata langsung hamil. Padahal anaknya masih sekolah sehingga kemudian terpikir untuk aborsi. Dosanya jadi berlipat-lipat itu," ucap dr Ricky.
"Jadi nggak tepat kalau anak kemudian dimarahi, dipukul, karena kedapatan melihat atau menanyakan yang bermuatan seks. Sebab anak akan jadi mengasingkan diri dengan gadgetnya. Akhirnya dia masuk ke lingkungan yang dia bentuk sendiri," sambungnya.










































