Selasa, 03 Des 2013 17:29 WIB

Studi: Anak yang Suka Bikin Berantakan Saat Bermain Bisa Belajar Lebih Baik

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock) Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Anak-anak memang berkaitan erat dengan dunia bermain. Termasuk ketika mereka 'menjelajah' semua benda yang ada di rumah kemudian membuat berantakan mainannya. Jika sudah begitu, orang tua pun kadang dibuat kesal. Padahal, menurut studi terbaru, anak yang cenderung 'berantakan' atau suka mengacak-acak saat bermain bisa belajar lebih baik.

Studi yang dilakukan tim peneliti dari University of Lowa menemukan bahwa balita yang memahami, menyentuh, dan merasa bahkan melempar-lempar benda, termasuk mainan dan makanannya, bisa terus mengumpulkan informasi tentang dunia sekitarnya. Peneliti menguji 72 balita berusia 16 bulan. Kemudian, mereka diberi beberapa benda.

Peneliti pun memperhatikan apakah anak itu bisa mempelajari nama-nama benda yang ada. Mereka menemukan bahwa anak yang cenderung berantakan saat bermain lebih baik dalam mempelajari benda sekaligus mengingat namanya. Salah satu peneliti, dr Larissa Samuelson mengatakan informasi dari suatu benda yang dilempar atau diacak-acak oleh anak akan lebih mudah mereka ingat.

"Sebab, mereka melakukan tindakan itu sambil mencatat informasi di pikirannya. Kami juga memberi objek non padat seperti selai, keju, mentega, oatmeal, dan saus cokelat," tutur Larissa seperti dilansir Daily Mail, Selasa (3/12/2013).

Kemudian, mereka diberi nama masing-masing objek dengan kata yang sederhana. Lalu, mereka diberi objek yang sama dengan bentuk berbeda. Ternyata, anak-anak yang lebih berantakan saat bermain, lebih akurat dalam memberi nama benda. Menurut peneliti, cara yang cenderung mengacak-acak, misalnya menggenggam, mengambil, lalu memasukkan benda-benda ke dalam mulut mereka. Sedangkan, anak yang tidak berantakan misalnya hanya menyentuh dan menusukkan jari ke suatu benda.

"Mereka yang bermain dengan cara berantakan bisa mengidentifikais benda hampir 70 persen benar sedangkan yang tidak berantakan hanya 50 persen. Mereka yang duduk di kursi tinggi pun bisa mengidentifikasi objek dengan lebih baik," papar Larissa.

Menurut Larissa, berada di kursi yang tinggi membuat balita lebih mungkin mengacak-acak mainannya. Selain itu, hal yang lebih penting bagi Larissa, anak yang bisa mengeksplorasi mainannya, salah satunya dengan memberantaki mainan yang ada, bisa mempelajari kosakata di awal perkembangannya. Sehingga, kemampuan kognitifnya bisa berkembang dengan baik saat dewasa.

Studi ini sudah diterbitkan dalam jurnal Developmental Science. Dalam laporannya, penulis mengatakan informasi yang diperoleh melalui eksplorasi aktif terkadang penting untuk mengetahui sesuatu.

"Terkadang, dengan berantakan, orang akan lebih bisa berpikir jernih karena mereka dapat mengeksplor ide-ide di sekelilingnya. Meskipun, ada juga orang yang baru bisa berpikir jernih jika ia berada di lingkungan yang rapi," kata para peneliti.



(vit/vit)