"Perkembangan otak anak bukan seperti Ebtanas (ujian sekolah) yang kalau gagal bisa diulang. Perkembangan otak anak sangat pesat di 1000 hari kehidupannya (9 bulan sebelum lahir hingga usia 2 tahun), dilanjutkan hingga usia 6 tahun. Jika saat itu otak anak tidak dapat berkembang dengan baik, maka selesai sudah tidak bisa diulang," tutur Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA (K), Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo/FK Unair Surabaya.
Hal ini disampaikannya dalam acara 'Kunjungan Media ke R&D Centre Nutricia Singapore', di Helios Building, Biopolis Street, Singapura, ditulis pada Jumat (13/12/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berat otak anak saat lahir sudah mencapai 25 persen otak orang dewasa. Saat usianya 2 tahun, otak sudah terbentuk 80 persen, dan menjadi 95 persen pada usia 6 tahun. Artinya, proses perkembangan otak sudah hampir selesai pada usia 6 tahun. Karena itulah, tahapan ini sering disebut dengan window of opportunity atau jendela kesempatan.
"Usia 0-2 tahun disebut dengan periode kritis (critical period). Saat ini proses perkembangan otak terjadi sangat cepat dan prosesnya tidak bisa diulang," tegas dr Wawan.
Bila pada tahap ini orang tua gagal memberikan nutrisi dan stimulasi yang baik, maka bisa dipastikan otak anak tidak akan bisa berkembang lagi. Karena itu, nutrisi dan stimulasi di awal-awal kehidupan anak merupakan kunci yang berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak.
"ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupan akan membuka periode kritis pertama dari sirkuit otak, yaitu kemampuan melihat dan mendengar. Bila dilanjutkan hingga usia 2 tahun, ini akan membuat membuat periode kritis berjalan dengan baik, tentu ditambah dengan makanan bernutrisi dan stimulasi," tutup dr Wawan.
(mer/up)










































