'Perkembangan Otak Anak Bukan Ujian Sekolah yang Bisa Diulang'

Laporan dari Singapura

'Perkembangan Otak Anak Bukan Ujian Sekolah yang Bisa Diulang'

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jumat, 13 Des 2013 11:04 WIB
Perkembangan Otak Anak Bukan Ujian Sekolah yang Bisa Diulang
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Singapura - Saat dinyatakan positif hamil hingga bayi menjalani awal-awal kehidupannya, seorang ibu sebaiknya benar-benar memperhatikan nutrisi dan stimulasi yang diberikan pada anak. Sebab, nutrisi ditambah stimulasi yang baik akan menjadi modal untuk perkembangan otak anak yang prosesnya tak akan terulang lagi dalam hidupnya.

"Perkembangan otak anak bukan seperti Ebtanas (ujian sekolah) yang kalau gagal bisa diulang. Perkembangan otak anak sangat pesat di 1000 hari kehidupannya (9 bulan sebelum lahir hingga usia 2 tahun), dilanjutkan hingga usia 6 tahun. Jika saat itu otak anak tidak dapat berkembang dengan baik, maka selesai sudah tidak bisa diulang," tutur Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA (K), Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo/FK Unair Surabaya.

Hal ini disampaikannya dalam acara 'Kunjungan Media ke R&D Centre Nutricia Singapore', di Helios Building, Biopolis Street, Singapura, ditulis pada Jumat (13/12/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

dr Wawan menjelaskan, cikal bakal otak anak yang awalnya hanya berupa sebuah lempengan, mulai terbentuk saat usia kehamilan 18 hari. Selama dalam kandungan, otak akan terus berkembang bila diberikan nutrisi dan stimulasi yang baik.

Berat otak anak saat lahir sudah mencapai 25 persen otak orang dewasa. Saat usianya 2 tahun, otak sudah terbentuk 80 persen, dan menjadi 95 persen pada usia 6 tahun. Artinya, proses perkembangan otak sudah hampir selesai pada usia 6 tahun. Karena itulah, tahapan ini sering disebut dengan window of opportunity atau jendela kesempatan.

"Usia 0-2 tahun disebut dengan periode kritis (critical period). Saat ini proses perkembangan otak terjadi sangat cepat dan prosesnya tidak bisa diulang," tegas dr Wawan.

Bila pada tahap ini orang tua gagal memberikan nutrisi dan stimulasi yang baik, maka bisa dipastikan otak anak tidak akan bisa berkembang lagi. Karena itu, nutrisi dan stimulasi di awal-awal kehidupan anak merupakan kunci yang berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak.

"ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupan akan membuka periode kritis pertama dari sirkuit otak, yaitu kemampuan melihat dan mendengar. Bila dilanjutkan hingga usia 2 tahun, ini akan membuat membuat periode kritis berjalan dengan baik, tentu ditambah dengan makanan bernutrisi dan stimulasi," tutup dr Wawan.

(mer/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads