Benarkah Cacing Ini Dapat Mengobati Autisme?

Benarkah Cacing Ini Dapat Mengobati Autisme?

Ratna Wulandari - detikHealth
Jumat, 13 Des 2013 15:00 WIB
Benarkah Cacing Ini Dapat Mengobati Autisme?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang dengan autisme yang menelan telur cacing cambuk selama 12 minggu, menjadi lebih mudah beradaptasi dan lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan tindakan yang berulang-ulang, kata pemimpin penulis studi.

"Kami menemukan orang-orang yang sulit beradaptasi, tidak nyaman dengan keadaan, suka berperilaku aneh atau menyimpang, mereka cenderung mudah marah dan emosional," jelas Dr Eric Hollander, direktur Autism dan Obsessive Compulsive Program Spectrum di Montefiore Medical Center di New York City, seperti dilansir dari Everyday Health, Jumat (13/12/2013).

Penelitian mengenai cacing cambuk adalah salah satu dari dua proyek Hollander yang dijadwalkan akan disajikan pada pertemuan tahunan American College of Neuropsychopharmacology di Hollywood, Florida.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terapi lainnya yaitu mandi air panas untuk anak-anak dengan autisme juga ditemukan dapat meringankan gejala. Peradangan yang disebabkan oleh sistem kekebalan hiperaktif, yang diduga berkontribusi pada autisme, adalah hubungan antara dua perlakuan yang tidak biasa tetapi berpotensi efektif.

Para peneliti percaya kehadiran cacing dapat mendorong tubuh untuk lebih mengatur respon kekebalan tubuh yang mengurangi tingkat peradangan seseorang. Sementara itu, mandi air panas bisa mendorong pelepasan sinyal anti inflamasi.

Autisme diperkirakan mempengaruhi satu dari 50 anak-anak usia sekolah di Amerika Serikat, menurut US Centers for Disease Control dan Pencegahan. Orang-orang dengan gangguan perkembangan memiliki gangguan keterampilan sosial dan komunikasi .

Rob Ring, kepala ilmu pengetahuan Autism Speaks, mengatakan bahwa ide-ide baru yang muncul itu sangat penting bagi bidang autisme untuk mengembangkan pendekatan baru. Penelitian itu melibatkan 10 orang dewasa dengan autism yang makan telur cacing cambuk selama 12 minggu, menelan sekitar 2.500 telur setiap dua minggu. Mereka juga menghabiskan lain 12 minggu lainnya menjalani meditasi plasebo.

"Tidak seperti whipworms mematikan pada anjing, whipworms (cacing ambuk) ini tidak membahayakan manusia. Cacing cambuk tidak mereproduksi dalam usus, dan tidak menembus usus, sehingga tidak menyebabkan penyakit pada manusia," jelas Hollander.

Penggunaan cacing berkaitan dengan kebersihan, yang menyatakan bahwa beberapa gangguan autoimun mungkin disebabkan oleh kurangnya mikroba atau parasit hadir dalam tubuh.

Dalam hal ini, ditemukan bahwa orang dewasa yang menerima pengobatan cacing menjadi kurang kompulsif dan lebih mampu menghadapi perubahan.Hollander melaporkan bahwa efek samping utama dari terapi cacing cambuk yaitu diare, sering terjadi pada pasien yang memakai plasebo, atau obat dummy.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa anak-anak telah meningkat perilaku sosial pada hari-hari ketika mereka direndam dalam bak air hangat. Temuan memverifikasi laporan sebelumnya bahwa sekitar sepertiga orang dengan autisme menunjukkan peningkatan gejala ketika mereka menderita demam.

"Orang tua mengatakan ketika anak mereka demam, mereka melihat peningkatan yang nyata dalam gejala autisme, ini telah dilaporkan selama bertahun-tahun. Penelitian ini hanyalah salah satu sudut Anda dapat mengambil eksperimen untuk mendapatkan apakah ini merupakan respon yang benar," ujar Ring.

Hollander mengatakan ia berencana untuk menindak lanjuti studi cacing cambuk dengan sampel yang lebih besar.

"Ada beberapa keraguan seputar kegunaan cacing cambuk, sebuah uji coba utama pengujian pengobatan cacing cambuk untuk penyakit Crohn, penyakit radang usus, baru-baru ini gagal. Saya pikir itu masih jauh sebelum kita tahu apakah pengobatan ini akan efektif, tapi temuan ini membantu menempatkan kami di jalan untuk lebih memahami efek ini," tambah Ring.

(up/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads