Waspada, Obesitas Anak Bisa Berujung Sakit Jantung Saat Remaja

Waspada, Obesitas Anak Bisa Berujung Sakit Jantung Saat Remaja

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 25 Des 2013 09:30 WIB
Waspada, Obesitas Anak Bisa Berujung Sakit Jantung Saat Remaja
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Tokyo - Boleh-boleh saja memanjakan anak, tapi jadilah orang tua yang bijak sehingga tak asal memberi makan anak yang pada akhirnya bisa membuatnya obesitas. Sebab anak yang sudah memperlihatkan penambahan berat badan sejak kecil lebih berisiko sakit jantung saat dewasa.

Bahkan mereka yang sudah menggendut sejak masih masih kecil ini dilaporkan lebih cenderung mengalami tekanan darah tinggi dan gejala awal gangguan jantung ketika menginjak usia remaja. Demikian dikutip dari Health24, Rabu (25/12/2013).

Beberapa studi sebelumnya pun mengatakan anak yang mulai mengalami penambahan berat badan di usia yang masih begitu muda lebih cenderung menjadi obes di kemudian hari. Tapi studi baru ini patut menambah kekhawatiran para orang tua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dr Satomi Koyama dari Dokkyo Medical University, Mibu, Tochigi, Jepang memimpin sekelompok peneliti untuk mengamati 271 anak yang lahir antara tahun 1995-1996. Setiap anak diukur berat dan tinggi badannya sedikitnya sekali dalam setiap tahun hingga berusia 12 tahun.

Setelah berhasil menentukan pola pertumbuhan masing-masing anak, peneliti pun akhirnya dapat mengetahui kapan partisipan mengalami BMI terendahnya, atau masa dimana 'adiposity rebound'-nya terjadi. Pasca melewati fase itu, BMI partisipan makin bertambah tiap tahunnya.

Apa itu 'adiposity rebound'? Pakar obesitas anak dari University of Virginia, Dr Mark D. DeBoer menjelaskan, "Alaminya, anak cenderung makin kurus dan tinggi ketika tumbuh tinggi dan pembentukan perawakannya lebih cepat ketimbang penambahan berat badannya."

Namun, lanjut DeBoer, belakangan hampir seluruh anak mencapai poin di mana mereka mulai mengalami penambahan berat badan lebih cepat dan indeks massa tubuhnya (BMI) mulai meningkat. Poin yang disebut dengan 'adiposity rebound' ini biasanya terjadi ketika usia anak berkisar antara 4-6 tahun.

Dan tim Koyama menemukan makin dini anak perempuan atau laki-laki mencapai poin tersebut, maka dapat dipastikan berat badan mereka jadi makin besar ketika mencapai usia 12 tahun.

Jadi misalnya anak lak-laki yang mulai menggemuk saat berusia tiga tahun akan cenderung memiliki BMI rata-rata sebesar 21 ketika remaja. Itu setara dengan BMI anak setinggi lima kaki yang beratnya 49 kg.

Sebaliknya anak laki-laki yang tidak mengalami penambahan berat badan sedikitnya sampai berusia tujuh tahun memiliki BMI rata-rata 17, atau setara dengan anak laki-laki yang sama dengan berat 39,4 kg.

Anak laki-laki yang mengalami 'adiposity rebound' di usia muda juga berisiko mempunyai trigliserida dan tekanan darah yang lebih tinggi ketika usianya mencapai 12 tahun. Dan menurut peneliti, meski angkanya masih terbilang normal, tapi ini masih bisa menjadi gejala awal gangguan jantung di masa depan.

Sedangkan bagi anak perempuan, kaitan antara usia dengan 'adiposity rebound' serta risiko jantungnya lebih kecil, meski masih harus diwaspadai.

(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads