Dikatakan Catherine, putrinya memang mengalami keterlambatan pertumbuhan sehingga Emma harus memakai sepatu khusus yang dibuat bersuara agar keluarganya tahu ke mana Emma pergi. Balita ini memiliki penyakit yang tak terdiagnosis sehingga ia baru bisa berjalan di usia 23 bulan.
Padahal, biasanya anak-anak bisa berjalan di usia 18 bulan. Oleh karena itulah, fisioterapis Emma merekomendasikan sepatu yang bisa mendukung pergerakan pergelangan kakinya dan mengeluarkan suara mencicit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Emma, tidak menggunakan sepatu itu justru bisa membuat pergelangan kakinya memutar dan menimbulkan banyak masalah. Dikisahkan Catherine, ia, Emma, dan putrinya yang lain pergi ke Panera Bread di Savannah. Saat akan menuang krim ke kopinya, pegawai restoran berkata bahwa sepatu Emma mengganggu pelanggan yang lain.
"Ia berkata jika aku tidak segera pergi meninggalkan restoran, mereka bisa mengambil sepatu Emma. Meskipun putriku tak tahu persis apa yang terjadi saat itu, aku tahu dia tidak senang dan sangat marah," kisah Catherine, demikian dilansir NY Daily News, Kamis (16/1/2014).
Saat keluar restoran, Catherine sempat complain pada manajer di sana tapi complain-nya tidak dimasukkan sebagai bentuk keluhan konsumen. Christine pun menelepon kantor pusat Panera dan dikatakan bahwa proses pengaduan akan diselesaikan dalam waktu 48 jam.
Menanggapi hal itu, Catherine pun meminta bantuan CBS Local dan WTOC-TV lalu mengatakan bahwa tindakan restoran itu bertentangan dengan Disabilities Act. Tak lama, pihak Panera meminta maaf secara pribadi pada Catherine. Pemintaan maaf Panera pun disambut baik oleh Catherine.
Setiap bulan, Emma memerlukan biaya sebesar Rp 88 juta untuk sistem kekebalan tubuhnya. Sumbangan untuk membantu Emma bisa disalurkan melalui Emma Duke Fund di Navy Federal Credit Union.
(/)










































