ADVERTISEMENT

Jumat, 24 Jan 2014 09:45 WIB

Kata Pakar, Puber Bisa Terjadi Di Usia Lima Tahun

- detikHealth
Tanginika Cuascud
Puerto Rico - Di usianya yang baru lima tahun, payudara Tanginika Cuascud sudah membesar. Sesaat setelah mandi ia merasakan dadanya nyeri dan membengkak. Ia pun menanyakan apa yang salah dengan dirinya pada sang ibu.

"Ia lalu mengintip ke bawah handukku dan terkejut. Setelah itu ia bergegas membawaku ke rumah sakit terdekat," kenang Tanginika yang kini berusia 42 tahun.

Di klinik kecil dekat rumahnya di Sabana Grande, Puerto Rico, tim dokter langsung meminta Tanginika menjalani sejumlah tes sebelum akhirnya mengirimnya ke rumah sakit yang lebih besar dengan ambulans. Disitu ia dites lagi berulang kali tanpa ada yang berupaya menjelaskan apa yang terjadi padanya. Tanginika ingat saat itu merasa ketakutan, kesepian dan kebingungan.

Ternyata dokter juga kebingungan bagaimana bisa Tanginika mengalami pubertas begitu cepat. Pasalnya di samping payudaranya tumbuh, rambut kemaluan dan ketiaknya juga tiba-tiba muncul. Yang lebih aneh lagi, Tanginika mulai menstruasi ketika usianya baru saja menginjak tujuh tahun.

Menurut American Academy of Pediatrics, sebenarnya sejak awal abad ke-20 rata-rata usia pubertas pada anak perempuan makin rendah. Mulai banyak remaja yang mengalami menstruasi pertamanya di usia 16-17 tahun. Tapi sekarang usia rata-rata haid pertama adalah 12 tahun. Bahkan dari sebuah studi dikatakan 10-15 persen anak perempuan zaman sekarang memasuki masa pubernya ketika masih tujuh tahun atau kurang dari itu.

Secara ilmiah, fenomena pubertas dini ini disebut sebagai 'precocious puberty'. Banyak pakar berspekulasi pubertas makin cepat terjadi karena asupan gizi yang semakin baik, begitu juga dengan kondisi kesehatan anak-anak masa kini.

Ada juga pakar yang cenderung menyalahkan paparan zat kimia dari lingkungan yang dapat meniru hormon pertumbuhan pada anak-anak perempuan dan obesitas anak yang mulai mewabah. Namun sejauh ini belum ada yang benar-benar terbukti.

Sebenarnya apa yang terjadi? Dr Angela Diaz, dokter anak dari Mt. Sinai Medical Center, New York City, pubertas dini dapat disebabkan oleh tumor atau malfungsi pada kelenjar pituitari, atau organ yang bertugas melepaskan dan menyimpan hormon seksual.

"Bila benar terjadi ini harus segera diperiksakan ke seorang pakar endokrinologi agar bisa didiagnosis dan diobati, karena pubertas dini dapat menyebabkan gangguan kesehatan lainnya di kemudian hari," katanya seperti dilansir ABC News, Jumat (24/1/2014).

Salah satu komplikasinya, sejumlah anak perempuan tak tumbuh dewasa secara normal. Bahkan beberapa studi mengatakan anak perempuan yang puber terlalu dini lebih rentan mengalami kanker payudara atau kanker rahim di kemudian hari.

Dr Diaz pun mewanti-wanti akan ada gangguan psikologis juga. "Karena anak itu mempunyai tubuh orang dewasa padahal di kepalanya ia masih merasa sebagai anak-anak. Ia juga masih terlalu muda untuk memahami apa yang terjadi padanya," tegasnya.

Belum lagi bahaya pelecehan seksual dari orang dewasa atau bullying dari rekan-rekan sebayanya. Ini pulalah yang terjadi pada Tanginika. Ia ingat betul teman-temannya, bahkan seniornya di sekolah dan guru-gurunya juga memperhatikannya secara berlebihan.

"Saya hanya anak kecil dengan lekukan di tubuh tapi saya mendapat banyak perhatian. Kadang saya diikuti beberapa anak yang ingin menanyakan tubuh saya," kisahnya.

Tanginika juga mengaku para pria kerap mendekatinya, bahkan ada juga yang menggerayanginya beberapa kali. Tentu ini memberi trauma tersendiri bagi Tanginika.

Sayangnya tak ada seorang pun yang dapat memberikan penjelasan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Ia hanya berharap orang tua yang punya anak dengan pubertas dini siap menghadapi hal ini.

"Carilah info tentang hal ini dan jangan biarkan anak Anda kebingungan. Beri mereka informasi dan katakan apa yang terjadi padanya," tuturnya.

(lil/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT