Catok Rambut dan Cangkir Panas, Pemicu Terbanyak Luka Bakar pada Anak

Catok Rambut dan Cangkir Panas, Pemicu Terbanyak Luka Bakar pada Anak

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Kamis, 06 Feb 2014 13:35 WIB
Catok Rambut dan Cangkir Panas, Pemicu Terbanyak Luka Bakar pada Anak
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Banyak sekali penyebab luka bakar, mulai dari knalpot sepeda motor hingga kebakaran itu sendiri. Pada anak, sebuah penelitian di Inggris mengungkap bahwa catok rambut dan cangkir panas merupakan penyebab terbanyak.

Catok alias setrika rambut untuk meluruskan maupun mengeritingkan rambut bertanggung jawab atas 1 dari 20 kasus luka bakar pada anak yang berujung pada perawatan di rumah sakit. Angka ini mendudukkan catok rambut sebagai penyebab paling banyak luka bakar pada anak.

Para peneliti yang melakukan survei ini mengingatkan bahwa catok rambut kadang-kadang ditinggalkan dalam kondisi panas, tanpa pengawasan. Anak-anak rentan mengalami cedera karenanya, sebab suhunya kadang masih mencapai 80 derajat celcius hingga 8 menit setelah dimatikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bila tanpa sengaja terpegang oleh anak-anak, maka risiko untuk terjadinya luka bakar bisa lebih besar dibandingkan pada orang dewasa. Salah satu alasannya adalah kulit anak-anak 15 kali lebih tipis dibandingkan kulit orang dewasa.

Penelitian yang dilakukan Archives of Diseases in Childhood ini juga mengungkap, mug alias cangkir kopi yang masih panas juga menjadi penyebab terbanyak kedua luka bakar pada anak. Pada anak-anak usia 5 tahun ke bawah (balita), 55 persen kasus luka bakar disebabkan oleh cangkir panas.

Hampir setengah dari kasus yang diamati, bermula saat anak-anak mengambil cangkir panas lalu menumpakan isinya ke wajah, lengan, dan tubuh bagian atas. Dalam penelitian ini, balita termuda yang mengalami luka bakar akibat cangkir panas masih berusia 8 bulan.

"Sementara benda-benda tersebut memang harus dijauhkan dari jangkauan anak, ada kemungkinan juga untuk melakukan modifikasi pada desain produk untuk memastikan keamanannya pada anak," kata sang peneliti, Alison Mary Kemp dari Cardiff University, seperti dikutip dari Daily Mail, Kamis (6/2/2014).

(up/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads