Anak-anak tidak perlu keterampilan matematika khusus untuk mengamati dua grup titik-titik hitam dan menyatakan mana yang memiliki lebih banyak titik. Tapi menurut penelitian terbaru helatan Daniel Hyde, mengerjakan hal-hal semacam itu pun dapat meningkatkan nilai matematika anak.
Selama bertahun-tahun psikolog telah mengetahui bahwa manusia terlahir dengan kemampuan memperkirakan kuantitas tanpa menghitung, kemampuan itu disebut ANS. Tapi para peneliti masih bertanya-tanya apa pengaruh ANS terhadap kemampuan berhitung seseorang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 100 anak peringkat atas di Boston berpartisipasi dalam studi Hyde. Para ilmuwan tersebut menyelidiki bagaimana pengaruh ANS terhadap kemampuan matematika dan verbal anak. Anak-anak itu dibagi ke dalam empat kelompok yang masing-masing diberi tugas berbeda.
Grup pertama dan kedua bermain dengan permainan 'jumlah titik-titik hitam'. Pada dua kelompok titik hitam, anak di grup pertama harus menentukan mana yang memiliki lebih banyak titik. Sedang anak grup kedua harus menjumlahkan titik-titik itu. Dua grup sisanya diberi tugas yang tidak berhubungan dengan perhitungan, mereka membandingkan panjang garis dan membandingkan level kecerahan.
Setelahnya, mereka diberi persoalam matematika yang mudah. Anak-anak grup pertama dan kedua berhasil mengerjakan persoalan itu 25% lebih cepat dibanding anak-anak grup ketiga dan keempat. Ketika diberi persoalan matematika yang lebih sulit, anak-anak di grup pertama dan kedua mencetak skor 15 poin lebih tinggi dibanding anak-anak pada grup ke-3 dan ke-4.
Ketika diteliti apa pengaruh latihan berbasis kuantitas terhadap kemampuan verbal anak, ternyata tidak ada perbedaan yang mencolok. Artinya tidak ada hubungan antara pelatihan ANS terhadap kemampuan verbal.
Berdasar penelitian itu, disimpulkan ada hubungan langsung antara pelatihan ANS dengan kemampuan matematika yang lebih baik. Meski demikian, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui secara pasti apa penyebabnya dan kapan usia terbaik untuk melatih ANS anak.
Dua pakar dari universitas lain yang tidak terlibat dalam penelitian itu turut mengamini simpulan penelitian. Mereka adalah Ariel Starr, mahasiswa S3 di Universitas Duke yang pernah melakukan penelitian serupa, dan Melissa Libertus, peneliti di Universitas Pittsburgh, Pennsylvania.
Starr dan Libertus sama-sama setuju bahwa ada berbagai macam game yang bisa dicobakan untuk melatih kemampuan ANS sekaligus matematika anak. Kuncinya adalah melatih anak dengan permainan berbasis kuantitas, perhitungan, atau matematika.
Sama halnya dengan atlet yang melakukan peregangan atau berlari sebelum pertandingan, berlatih dengan permainan berbasis kuantitas merupakan pemanasan bagi otak sebelum menyelesaikan persoalan matematika. Demikian ungkap Libertus.
"Sama seperti olahraga, Anda bisa melihat bahwa pelatihan berulang memiliki efek jangka panjang pada kemampuan matematika," pungkas Libertus sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat (7/2/2014).
(/)











































