Wanita yang akrab disapa Luki ini mengatakan dulu kanker masih jarang terjadi sehinga kurang mendapat perhatian khusus, padahal nyatanya saat ini menurut banyak sekali kasus kanker di Indonesia.Jadi, menurut Luki siapa lagi kalau bukan dirinya yang harus bergerak? Akhirnya, sejak tahun 1993 Luki bergelut di bagian kemoterapi untuk dewasa dan anak di RS Kanker Dharmais Jakarta.
Sejak tahun 2006, barulah ia fokus pada kemoterapi khusus anak-anak. Meskipun lebih sulit menterapi anak-anak ketimbang orang dewasa, menurut Luki ada kepuasan tersendiri ketika ia bisa meningkatkan kualitas hidup pasien contohnya yang ketika datang ke rumah sakit tidak bisa menelan tapi akhirnya bisa makan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama melakukan kemoterapi pada pasien anak-anak, memang ada kesulitan yang dihadapi wanita asal Bogor ini. Di antaranya ia tidak bisa jujur pada anak tentang kondisinya. Sehingga, Luki harus memakai cara yang disesuaikan dengan pertumbuhan anak. Misalnya ketika anak akan diambil darah tidak mungkin Luki mengatakan bahwa akan diambil darah, tapi dia harus menggunakan isyarat dengan menepukkan siku bagian atas.
“Memang ada perasaan ngenes, kalau kita mau jujur tentang kondisi anak, kita harus izin sama orang tua. Minimal jujur itu kita terapkan pada orang tua misalnya ini obatnya sakit, anak harus masuk ICU, karena ketika orang tua mempercayakan anaknya pada kita, berarti kita sudah bisa masuk ke dalam keluarganya dia,” papar Luki yang kini menjadi kepala ruangan anak RS Kanker Dharmais,.
Seperti pekerjaan lain, ada suka dan duka yang dialami Luki selama 20 tahun berkecimpung di bidang kemoterapi. Ia merasa senang karena selama membantu pasiennya, ia secara tidak langsung mendapat ilmu baru. Sebab, tidak terlalu banyak orang yang tahu tentang onkologi. Lalu, ketika anak yang awalnya kesakitan lalu rasa sakitnya bisa berkurang bisa membuat Luki bahagia.
“Ketika kualitas hidup pasien membaik meskipun sebelumnya sudah dikatakan prognosisnya sangat buruk tapi dalam waktu yang tersisa misal tiga bulan dia bisa ceria, meskipun umur kita nggak tahu, itu suatu kepuasan tersendiri bagi saya,” tutur Luki.
Ada satu hal yang menurut Luki bisa jadi penyemangatnya yakni pasiennya yang bisa bertahan melawan kanker salah satunya melalui kemoterapi. Meskipun tak bisa dipungkiri, duka pun kerap dirasakan ibu satu anak ini ketika ia gagal membantu pengobatan, ditambah adanya stigma orang di sekitar yang belum bisa menerima keadaan si pasien hingga ketika dikemoterapi, anak sering bercerita kangen dengan keluarganya di rumah.
“Makanya saya harap orang tau bisa lebih support anaknya. Masyarakat juga lebih peduli dengan kanker yang terjadi pada anak. Juga pemerintah supaya lebih concern pada kanker yang terjadi pada anak dengan menyediakan berbagai fasilitas,” papar Luki.
(rdn/vit)











































