Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar, mengaku resah dengan orang tua yang menjadikan gadget sebagai pengganti baby sitter. Sebab hal itu bisa saja membuat anak menjadi sulit bergaul.
"Ada anak nangis di mal malah dikasi tablet sama orang tuanya. Padahal mungkin anak inginnya digendong atau dipeluk. Ini bahaya. Jika kecanduan, anak bisa sulit bergaul dengan masyarakat luas nantinya," papar Linda pada acara Seminar Sehari Internasional Penggunaan Media Digital di Kalangan Anak dan Remaja yang bertempat di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng Selatan, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Rabu (19/2/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Roslina Verauli, M.Psi mengatakan bahwa sebenarnya gadget merupakan salah satu alat pembelajaran untuk anak. Namun orang tua harus memberikan gadget sesuai porsinya untuk belajar anak.
"Penggunaan gadget itu sehatnya 1 sampai 2 jam sehari. Tidak boleh lebih. Kalau lebih itu berarti proses pembelajaran yang tidak tepat," ujar psikolog yang akrab disapa Vera ini ketika dihubungi detikHealth di kesempatan berbeda.
Menurutnya ada beberapa faktor yang membuat orang tua menjadikan gadget sebagai babysitter dadakan. Faktor pertama adalah situasi dan kondisi orang tua yang terlalu sibuk sehingga harus terpaksa memberikan gadget agar anaknya tidak rewel.
"Faktor kedua itu bisa saja informasi. Mungkin saja kedua orang tua tersebut tidak mengetahui informasi tentang bagaimana menghadapi anak yang rewel," papar psikolog lulusan UI tersebut.
Untuk itu, ia menekankan perannya komunikasi dua arah antara anak dan orang tua. Membaca cerita, mengajak anak main keluar atau sekadar mengobrol bisa menjadi salah satu cara orang tua agar anak tidak terlalu bergantung pada gadget.
"Soalnya percuma saja kalau anaknya belajar lewat gadget namun tidak ada supervisi dari orang tua. Nanti dia tidak tahu bagaimana sebenarnya dunia luar," pungkas Vera.
(vit/vit)











































