Pakar psikologi anak dan remaja Rosliana Verauli, M.Psi mengatakan tindakan pelaku tersebut merupakan perilakua agresif yang dilatarbelakangi rasa sakit hati akibat cinta yang tidak terbalas atau putus cinta. Sakit hati menurutnya adalah kumpulan emosi negatif yang tertumpuk dan harus dikeluarkan. Salah satunya adalah dengan perilaku agresif. Lalu apakah perilaku agresif satu-satunya cara untuk mengeluarkan emosi negatif tersebut?
Menurutnya cara terbaik untuk menghilangkan sakit hati tersebut adalah dengan menangis atau curhat dengan teman. Sebab menangis dan curhat dapat menghilangkan sebagian besar rasa sakit hati yang disimpan oleh orang tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vera menambahkan bahwa sakit hati adalah proses yang harus dilalui oleh tiap orang, terutama remaja. Sebab sakit hati dapat membantu remaja untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, mereka juga dapat mengetahui lebih baik tentang interaksi sosial di masyarakat.
"Remaja kan sedang dalam proses mencari jati diri. Dengan sakit hati lalu dihadapi dengan baik, ia akan mengevaluasi diri nantinya. 'Ooh kalau sama perempuan saya tidak boleh begini,' atau 'perilaku saya tidak benar dan merugikan orang lain'," sambung Vera.
Selain itu, menjadi pribadi yang positif dan berpikir ke depan merupakan nilai plus pada remaja yang sedang sakit hati. Pada orang yang positif, emosi negatif yang dirasakan tidak terlalu besar. Sehingga biasanya orang dengan pribadi positif akan lebih mudah terbebas dari perasaan sakit hati tersebut.
"Pribadi positif dan berpikir ke depan aja. 'Mungkin saya akan mendapat yang lebih baik lagi nanti,' ditambah dengan lingkungan sekitar, sahabat dan orang tua yang mendukung, pasti sakit hatinya bisa cepat teratasi," pungkas Vera.
(vit/vit)











































