Jumat, 14 Mar 2014 11:32 WIB

Menangis dan Curhat Bisa Hindarkan Perilaku Agresif Remaja Putus Cinta

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Kasus pembunuhan Ade Sara (19) oleh dua temannya, Hafitd (19) dan Sifa (19) dipicu rasa sakit hati Hafitd yang kesal karena Sara menolak berkomunikasi dengannya semenjak putus cinta. Tak hanya Hafitd, seorang remaja 16 tahun berinisial M juga kehilangan nyawanya setelah terkena sabetan gir di kepala. Pelaku merupakan segerombolan remaja dan diduga salah satunya adalah mantan pacar korban.

Pakar psikologi anak dan remaja Rosliana Verauli, M.Psi mengatakan tindakan pelaku tersebut merupakan perilakua agresif yang dilatarbelakangi rasa sakit hati akibat cinta yang tidak terbalas atau putus cinta. Sakit hati menurutnya adalah kumpulan emosi negatif yang tertumpuk dan harus dikeluarkan. Salah satunya adalah dengan perilaku agresif. Lalu apakah perilaku agresif satu-satunya cara untuk mengeluarkan emosi negatif tersebut?

Menurutnya cara terbaik untuk menghilangkan sakit hati tersebut adalah dengan menangis atau curhat dengan teman. Sebab menangis dan curhat dapat menghilangkan sebagian besar rasa sakit hati yang disimpan oleh orang tersebut.

"Menangis aja sepuasnya. Sampai plong, sampai lega. Atau bisa juga dengan curhat sama teman. Yang penting seluruh perasaan dan emosinya keluar," papar psikolog yang akrab disapa Vera tersebut ketika dihubungi detikHealth dan ditulis pada Jumat (14/3/2014).

Vera menambahkan bahwa sakit hati adalah proses yang harus dilalui oleh tiap orang, terutama remaja. Sebab sakit hati dapat membantu remaja untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, mereka juga dapat mengetahui lebih baik tentang interaksi sosial di masyarakat.

"Remaja kan sedang dalam proses mencari jati diri. Dengan sakit hati lalu dihadapi dengan baik, ia akan mengevaluasi diri nantinya. 'Ooh kalau sama perempuan saya tidak boleh begini,' atau 'perilaku saya tidak benar dan merugikan orang lain'," sambung Vera.

Selain itu, menjadi pribadi yang positif dan berpikir ke depan merupakan nilai plus pada remaja yang sedang sakit hati. Pada orang yang positif, emosi negatif yang dirasakan tidak terlalu besar. Sehingga biasanya orang dengan pribadi positif akan lebih mudah terbebas dari perasaan sakit hati tersebut.

"Pribadi positif dan berpikir ke depan aja. 'Mungkin saya akan mendapat yang lebih baik lagi nanti,' ditambah dengan lingkungan sekitar, sahabat dan orang tua yang mendukung, pasti sakit hatinya bisa cepat teratasi," pungkas Vera.

(vit/vit)