Perilaku agresif karena sakit hati, bisa dilihat pada kasus Ade Sara (19) yang dibunuh oleh Hafitd (19) mantan pacarnya, dan Sifa (19) pacar baru Hafitd. Kasus serupa juga terjadi pada remaja M (16) yang meninggal di rumah sakit setelah sabetan gir oleh A, mantan pacarnya, yang mengincar S, pacar baru M, salah sasaran dan mengenai dirinya.
Beberapa kasus yang mencuat membuat pacaran remaja terlihat begitu mengkhawatirkan. Perilaku agresif seperti menampar, memukul atau bahkan menendang pasangan seperti sah-sah saja dilakukan, ketika status remaja adalah pacaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada lho kasus kekerasan pacaran yang sampai kepala pacarnya dijedotkan ke tembok atau dashboard mobil. Pukul-pukulan, ditampar atau ditendang," papar Vera ketika dihubungi detikHealth dan ditulis pada Jumat (14/3/2014).
Tak hanya kekerasan fisik, pada beberapa kasus juga terjadi kekerasan verbal yang pada akhirnya berujung pada perilaku bullying. Vera pun mencontohkan sebuah kasus yang pernah ditanganinya.
"Jadi ada remaja yang curhat sama saya bahwa dia sudah dua kali aborsi dan melakukan hubungan seks secara reguler seperti suami istri dengan pacarnya. Remaja SMA lho ya. Lalu dia ini si perempuannya ingin putus, namun tidak boleh oleh pacarnya dengan ancaman akan disebarkan berita bahwa di cewek gampangan," ungkap Vera.
Vera menjelaskan orang tua harus lebih aware dan perhatian terhadap perilaku pacaran anak. Karena menurutnya masih banyak orang tua yang buta atau cenderung menganggap remeh perilaku pacaran anak, sehingga berujung pada kurang pengawasan terhadap keselamatan dan kesehatan anaknya.
"Saya tidak bisa bilang ini banyak terjadi karena butuh penelitian lebih lanjut. Namun yang jadi perhatian bahwa orang tua harus lebih aware. Kasus seperti ini ada lho, terjadi lho di lingkungan anak kita," tutur Vera.
(vit/vit)











































